SAMARINDA-Pembelajaran tatap muka (PTM) untuk SMA sederajat di Kaltim tampaknya bakal molor. Semula, PTM mulai dilaksanakan awal tahun ini. Namun, persyaratan kesehatan rupanya belum memenuhi syarat yang diperintahkan gubernur. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim Anwar Sanusi mengatakan, salah satu hal yang membolehkan digelarnya PTM untuk SMA sederajat adalah capaian vaksinasi. Akan tetapi, sayangnya capaian vaksinasi belum sesuai harapan.

"Vaksin belum mencapai target. Pak gubernur (Isran Noor), ketua satgas (Covid-19), belum mengizinkan," kata Anwar. Sebenarnya, capaian vaksinasi dosis pertama di Kaltim secara keseluruhan pada umumnya sudah mencapai 82 persen. Sementara capaian vaksinasi remaja secara keseluruhan yang notabene pelajar SMP dan SMA, dari total 397.462 orang, sebanyak 83,12 persen remaja sudah divaksin. Namun, jika mengacu pada masing-masing kabupaten/kota, tak semuanya sesuai target 75 persen untuk dosis pertama.

Meski mayoritas capaian vaksinasi remaja di berbagai kota/kabupaten di Kaltim lebih dari 80 persen, masih ada Kutai Timur yang hanya 56,88 persen dan Mahakam Ulu yang 60,40 persen. "Saya sudah ajukan permohonan tatap muka sesuai daerah. Namun, kemarin saya ajukan permohonan tatap muka sesuai daerah tidak bisa karena ada 100 persen, 90 persen divaksin, tapi ada yang 50 persen," sambungnya. Sebelumnya, Pemprov Kaltim berencana membuka PTM di semester kedua tahun ajaran 2021/2022 jika target vaksinasi seluruhnya terpenuhi.

Diharapkan, Desember 2021 proses vaksinasi bisa digeber. Namun, ternyata capaian tinggi vaksinasi belum merata. Di sisi lain, pihak SMA sederajat juga masih menunggu bagaimana arahan dari Pemprov Kaltim. Kepala SMA 17 Abdul Rozak Fachruddin mengatakan, pihaknya sudah siap melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan. Namun, mereka tentu saja menggantungkan keputusan pada pemangku kebijakan.

"Menunggu edaran dari provinsi, karena kewenangan SMA ada pada gubernur," kata dia. Tentu saja, disebut dia, koordinasi dengan Satgas Covid-19 juga terus dilakukan.

Dia memaparkan, sejak Oktober lalu, anak muridnya mayoritas sudah divaksin. Pihaknya pun sudah melakukan vaksinasi khusus untuk siswa di SMA-nya. SMA 17 pun menjadi salah satu sekolah SMA di Kaltim yang melaksanakan vaksin pelajar di awal. Dia membeberkan, sebenarnya vaksin diberikan sesuai jumlah siswa. Namun, ada beberapa hal yang membuat siswa tidak bisa ikut vaksinasi, mulai sakit atau ternyata juga sudah mendapat vaksin di luar. "Gurunya juga sudah divaksin semua," kata Rozak.

Belum lama ini, menteri kesehatan (menkes), menteri dalam negeri (mendagri), menteri pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi (mendikbudristek), dan menteri agama (menag), menetapkan penyesuaian Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor 05/KB/2021 Nomor 1347 Tahun 2021, Nomor HK.01.08/MENKES/6678/2021, Nomor 443-5847 Tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19.

SKB empat menteri ini, menurut Mendikbudristek Nadiem Makarim, ditetapkan melalui berbagai pertimbangan yang matang demi kemaslahatan bersama, khususnya masa depan anak-anak Indonesia.

“Pendidikan adalah hak setiap warga negara dan merupakan tanggung jawab bersama. Pemulihan pendidikan tidak kalah pentingnya dengan pemulihan ekonomi,” ujarnya. Dia mengatakan, sudah hampir dua tahun anak-anak melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun, berbagai riset menunjukkan bahwa pandemi menimbulkan kehilangan pembelajaran (learning loss) yang signifikan. "Anak-anak berhak bersekolah sebagaimana mestinya. Pemulihan pembelajaran sudah sangat mendesak untuk dilakukan selagi masih bisa kita kejar,” terang Menteri Nadiem di Jakarta, Kamis

(23/12).

 

Pakai Dua Skema, Vaksinasi Booster Dimulai 12 Januari

Sementara itu, pemerintah akhirnya mengumumkan jadwal vaksinasi booster Covid-19 untuk masyarakat. Per 12 Januari, vaksinasi ketiga itu akan dimulai.

Sebelumnya, vaksin booster hanya diperuntukkan tenaga kesehatan. “Pemerintah memilih untuk mendahulukan kelompok rawan, yakni lansia atau lanjut usia,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang mengumumkan jadwal vaksinasi booster saat mengunjungi pelaksanaan vaksinasi di SD Kemanggisan 05 Pagi, Jakarta, (31/12).

Selain lansia, vaksinasi booster bakal menyasar kelompok rentan sebagai peserta penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan yang diberikan secara gratis. Selanjutnya, program booster akan dilanjutkan kepada masyarakat umum non-PBI dengan skema berbayar.

Sampai kemarin pukul 19.30, cakupan vaksinasi tahap I golongan lansia masih mencapai 65,56 persen. Sementara target vaksinasi lansia adalah 21.553.118 orang.

Airlangga yang juga menjabat ketua KPCPEN (Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional) menjelaskan, vaksinasi booster ini bakal menggunakan dua skema. Pertama, vaksin pertama hingga ketiga menggunakan merek vaksin yang sama. Kedua, memakai merek yang berbeda. Skema tersebut sudah mendapatkan izin dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional atau ITAGI. (nyc/riz/k16)