Dibatalkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 pada momen libur akhir tahun membuat dunia pariwisata bergerak lebih bebas.

SAMARINDA - Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Kaltim I Gusti Bagus Putra mengatakan, Mendagri Nomor 66 Tahun 2021 menjadi acuan aturan tempat wisata setelah PPKM Level 3 seluruh Indonesia dibatalkan. Dengan pembatalan ini ditambah hanya tes antigen untuk syarat penerbangan dosis vaksin lengkap, maka masih ada kemungkinan masyarakat akan berwisata.

Dampaknya tentu saja membuat tingkat kunjungan wisatawan domestik sangat bergairah khususnya objek wisata, tingkat hunian hotel, restoran, pusat cendera mata dan lain-lain akan naik. “PPKM tidak jadi, lalu untuk penerbangan cukup antigen saja, otomatis pariwisata akhir tahun akan menggeliat,” ujarnya, Rabu (29/12).

Saat ini, pemesanan tiket untuk berlibur pada akhir tahun sudah meningkat 10-20 persen. Utamanya, masih untuk pariwisata domestik. Apalagi pemerintah memberikan perhatian lebih kepada wisatawan nusantara. Di mana ada skema perjalanan aman untuk pasar domestik, sehingga kebangkitan pariwisata bisa lebih cepat.

Ada dua kunci naiknya wisata domestik. Pertama adalah insentif harga atau diskon, sedangkan yang kedua adalah motivasi perjalanan khusus, yaitu silaturahmi keluarga atau teman dan wisata religi. Pelaku industri harus mau menekan harga, dengan pedoman bahwa strategi yang diterapkan adalah bertahan hidup, bukan mencari keuntungan.

Sementara pemerintah melakukan promosi, membangun kepercayaan wisatawan, dan insentif untuk syarat perjalanan seperti menekan biaya rapid test bagi wisatawan. “Pemerintah menjalankan itu, sehingga perjalanan pariwisata domestik terus menggeliat apalagi pada pergantian tahun ini,” pungkas pria yang juga menjadi wakil ketua umum Asita Pusat Bidang Pariwisata Domestik ini.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Sri Wahyuni mengatakan, saat musim libur seperti pengujung tahun, pihaknya mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan wisata domestik. Sebab, berwisata aman adalah berwisata di Kaltim saja. Salah satu penguatan yang bisa dilakukan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten atau kota adalah melalui pengembangan desa wisata.

Di Kaltim ada 63 desa merupakan desa wisata atau desa yang memiliki kawasan wisata potensial. Desa-desa itu terdiri desa wisata rintisan, desa wisata maju, dan desa wisata mandiri. Desa-desa wisata ini, harus terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang seluas-luasnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Di samping itu, masyarakat harus tetap mempertahankan seni budaya, tradisi, adat istiadat, maupun kondisi alam setempat. “Kita mendorong masyarakat untuk dapat menikmati pariwisata yang aman, di tengah Covid-19 dengan tetap di Kaltim saja” tutupnya. (ctr/ndu/k15)