JAKARTA – Ketidakpastian masih membayangi upaya pemulihan ekonomi tahun depan. Namun, sektor industri menegaskan optimismenya untuk tumbuh pada 2022. Baik dari sisi ekspor maupun investasi. ”Seiring membaiknya perekonomian nasional, kami menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4-4,5 persen pada 2021 ini. Dan, sebesar 4,5-5 persen pada 2022,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (30/12).

Dia menerangkan bahwa target nilai ekspor industri manufaktur berada pada kisaran USD 170-175 miliar tahun ini. Target nilai itu diharapkan mencapai USD 175-180 miliar pada 2022.

Pada nilai investasi, Kemenperin menargetkan sebesar Rp 280-290 triliun tahun ini, dan sebesar Rp 300-310 triliun pada 2022. “Kami juga menargetkan penyerapan tenaga kerja sebanyak 20,84 juta orang pada tahun 2022,” tambahnya.

Agus mengaku telah mengidentifikasi tantangan-tantangan 2022. Antara lain, disrupsi supply chain, kelangkaan kontainer akibat ketidakseimbangan perdagangan laut, dan berbagai event internasional. Khususnya, eksibisi atau pameran internasional dalam bentuk virtual atau digital.

Tantangan lain adalah ketergantungan impor bahan baku serta bahan baku penolong, dan mitigasi gelombang varian virus omicron pada sektor industri. “Kami juga mengkaji usulan pemberian insentif baru bagi sektor industri tertentu agar daya saing meningkat,” urai Agus.

Kemarin dia juga memaparkan rapor industri manufaktur sepanjang 2021. Agus menyampaikan bahwa tahun ini sektor industri manufaktur mulai menggeliat. Itu terlihat dari realisasi investasi, capaian ekspor, kontribusi pajak, kontribusi terhadap PDB, dan peringkat Purchasing Managers Index (PMI).

Sepanjang Januari-September 2021, realisasi investasi sektor manufaktur tercatat sebesar Rp236,79 triliun. Angka ini naik 17,3 persen jika dibandingkan dengan realisasi investasi pada periode yang sama tahun lalu. Yakni, sebesar Rp201,87 triliun.

Capaian nilai ekspor industri manufaktur terus meningkat. Nilai ekspor industri manufaktur pada Januari-November 2021 mencapai USD160 miliar atau berkontribusi sebesar 76,51 persen dari total ekspor nasional. Angka ini telah melampaui capaian ekspor manufaktur sepanjang 2020 yang sebesar Rp131 miliar. Bahkan lebih tinggi dari capaian ekspor 2019.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan bahwa sektor manufaktur memang sedang tumbuh positif. Namun, dia belum bisa memprediksi perkembangan investasi tahun depan. Alasannya, ketidakpastian ekonomi masih tinggi.

Tolok ukur pertama adalah pengendalian pandemi tingkat nasional dan global. ”Kemudian, seberapa cepat vaksinasi bisa menciptakan herd immunity di Indonesia dan mempercepat normalisasi ekonomi,” ujarnya.

Shinta mengatakan bahwa semakin cepat herd immunity tercapai, semakin cepat investasi meningkat. Akan lebih baik lagi, menurut dia, bila pembukaan perbatasan dan relaksasi mobilitas antarnegara bisa dipercepat. Sebab, ada banyak sektor usaha yang investasinya tersendat akibat kendala mobilitas. ”Pembatasan membuat investor tidak bisa melakukan penjajakan atau penilaian investasi secara fisik,” pungkasnya. (agf/hep)