Keberadaan Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center menjadi magnet bagi warga Samarinda maupun kota lain. Sehingga, tidak salah jika rumah ibadah ini juga menjadi destinasi wisata religi.

 

MASJID yang berdiri di atas lahan seluas 7,2 hektare eks PT Inhutani itu kondisinya terlihat pudar. Bahkan, kubah dan tujuh menara pendukung yang berwarna hitam kusam hingga ditumbuhi rumput dan lumut. Lantainya pun ada yang berlumut. Atas kondisi itu, ratusan relawan dan organisasi masyarakat (ormas) dibantu tim Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda mengadakan bersih-bersih bersama, Rabu (29/12).

Bahkan delapan pemanjat tebing yang tergabung dalam Generasi Pemuda Rock Climbing (GPRC) asal Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan (Kalsel) ikut berpartisipasi, khusus pembersihan area kubah masjid.

Ketua Umum Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Kaltim Awang Dharma Bakti (ADB) menyampaikan selama ini pengelola hanya mampu melakukan pemeliharaan dari sisi bagian bawah masjid.

Sedangkan untuk menara hingga kubah diperlukan tenaga ahli. Debu dari aktivitas kendaraan hingga angkutan batu bara yang melintas di Sungai Mahakam, tepat di seberang masjid turut membuat bangunan masjid menjadi terlihat kusam.

“Sebagai kota jasa, tidak terlepas dari aktivitas kendaraan yang membuat debu juga semakin banyak hingga ke area masjid,” ucapnya, Rabu (29/12).

Sementara untuk perawatan ke titik-titik tersulit, diperlukan biaya yang tinggi dan itu pun perlu waktu. Dia pun menyampaikan terima kasih terhadap pihak yang memviralkan melalui media sosial atas kondisi bangunan masjid yang kusam.

Hasilnya banyak pihaknya yang merasa terpanggil untuk gotong royong membantu termasuk teman-teman dari Kalsel. “Semuanya tidak dibayar. Mereka terpanggil hatinya untuk berbuat kebaikan. Karena masjid ini bukan milik BPIC tetap umat Islam di penjuru daerah,” singkatnya.

Ditemui terpisah, anggota GPRC Muhammad Zaini menceritakan setelah mengetahui kondisi masjid yang minim perawatan dirinya menghubungi beberapa kawan. Hingga akhirnya beberapa orang menyatakan kesiapan untuk berangkat ke Kota Tepian sejak Senin (27/12) menggunakan sepeda motor.

“Saya bersama istri berangkat Selasa (27/12) dini hari. Kami semua membawa peralatan lengkap sesuai standar keamanan memanjat tebing yang kami miliki,” ucapnya.

Dia pun berterima kasih atas sambutan hangat dari pengurus BPIC serta tim relawan yang hadir, apalagi di Samarinda pengurus masjid menyediakan tempat untuk tinggal selama beberapa hari yang cukup nyaman.

“Ini juga panggilan jiwa kami sebagai umat muslim. Sudah delapan masjid yang kami bersihkan, terutama bagian yang memerlukan keahlian memanjat. Semoga membawa berkah bagi kami dan banyak orang,” tutupnya.

Pejabat Fungsional Teknik Pengairan Dinas PUPR Samarinda Akhmad Supriyadi mengaku sebelum aksi ini pihak BPIC mengadakan rapat gabungan, Kamis (23/12) lalu yang menyepakati pembagian tugas hingga hari pelaksanaan. Dari rapat itu juga diharapkan kegiatan seperti ini digelar minimal dua kali dalam setahun.

“Kami selalu siap. Apalagi Islamic Center merupakan ikon Samarinda bahkan Kaltim. Semoga bantuan dari pemkot ini membawa berkah bagi banyak orang dan membuat pengunjung kian nyaman untuk beribadah dan berwisata,” tutupnya. (dns/kri/k8)