BALIKPAPAN-Menjelang akhir tahun harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Selain harga cabai merah, harga minyak goreng di Balikpapan juga terpantau mengalami kenaikan sebulan terakhir.

Kenaikan harga ini dikeluhkan warga, terutama ibu rumah tangga. Masliana, salah satu warga mengaku rela antre demi mendapatkan minyak goreng murah program operasi pasar di Halaman Kantor Kecamatan Balikpapan Barat, Rabu (29/12) pagi. "Iya saya tadi antre sejak Pukul 10.00 Wita," kata Masliana selepas membeli dua liter minyak goreng.

Ibu 42 tahun ini menambahkan, harga minyak goreng yang dijual selama operasi pasar memang jauh lebih murah ketimbang harga di pasar. "Di sini (operasi pasar) harga satu liter cuma Rp 14 ribu per liter. Kalau di pasar bisa sampai Rp 37 ribu," ungkap dia. Setiap bulan, kata Masliana, kebutuhan minyak gorenya mencapai 6 liter.

Siti Rahma menyebut, harga minyak goreng yang naik drastis sebulan terakhir dirasa sangat memberatkan. Sebab, selain minyak goreng harga kebutuhan lain juga turut mengalami kenaikan.

"Biasanya harga minyak goreng cuma Rp 27 ribuan. Sekarang bisa sampai Rp 37 ribu bahkan mencapai Rp 38 ribu," ungkap perempuan 43 tahun ini. Selain Siti Rahma dan Masliana ratusan warga di Balikpapan Barat juga rela mengantre mendapatkan minyak murah.

Manager Social Capital PT Kutai Refinery Nusantara (Apical Group) Budi Jaya Arsa mengatakan, perusahaan menyediakan 20 ribu liter minyak goreng untuk operasi pasar di Kota Beriman. Jumlah itu, nantinya bakal didistribusikan untuk seluruh kecamatan di Balikpapan.

Hanya saja, perusahaan membatasi pembelian untuk masing-masing warga maksimal sebanyak 2 liter. "Hari ini kami gelar operasi pasar di Balikpapan Barat. Operasi pasar juga akan digelar di seluruh kecamatan," ungkap dia. Program ini, kata Budi bertujuan untuk membantu warga yang terdampak kenaikan harga minya goreng. "Kami kan memang produsen minyak goreng, jadi ini merupakan program untuk membantu meringankan beban warga," ungkap dia.

Disinggung soal harga minyak goreng yang terus mengalami kenaikan, Budi menyebut ada sejumlah faktor yang jadi penyebah. Mulai dari kenaikan harga komoditas kelapa sawit hingga peningkatan harga bahan bakar minyak. (hul)