Ciri khas menjadi salah satu hal penting dalam memulai usaha. Seperti yang ingin diselipkan Crema Coffee Balikpapan.

 

SEKILASdilihat, kafe di Jalan Ahmad Yani, Karang Rejo, Kecamatan Balikpapan Tengah, tampak seperti kafe pada umumnya. Namun, ketika menginjakkan kaki di dalamnya, tepatnya di lantai dua, nuansa tradisional terpancar jelas.

Penuh dengan ornamen dan kursi anyaman rotan, Crema Coffee yang hadir sejak Maret tahun lalu memang didesain dengan dua konsep. Perpaduan antara gaya modern dan tradisional. Awalnya, dua kakak beradik Susanto, Sharyn Susanto dan Chintya Susanto, hanya ingin membuat sebuah coffee shopbiasa. Sayang, debut bersamaan dengan merebaknya pandemi, membuat usaha mereka sempat terguncang.

Nyatanya, menjadi pendatang baru di dunia kuliner tidak semudah yang dibayangkan. Kondisi yang tidak stabil pun hampir membuat keduanya menutup usaha tersebut. “Apalagi waktu itu sampai ada aturan dine in dan tidak boleh buka di weekend, itu benar-benar momen terberat untuk kami,” tutur Sharyn, mengenang awal mula merintis usaha keluarganya. Setelah bertahan satu tahun lebih, akhirnya tepat September 2021, Crema Coffee memutuskan bergabung dengan Si Mbok Eatery, kuliner khas Surabaya. Dari kerja sama itu tercetus ide untuk menyisipkan unsur tradisional Indonesia.

Mulai dekorasi hingga menu pun turut berinovasi. Lantai dua bergaya Jawa, lantas menjadi spot foto andalan kala pengunjung bertandang. Begitu pula dengan menu. Kuliner khas Jawa Timur seperti lontong kupang dan sego sambel paru mulai disajikan.

Tak sampai di situ, untuk minuman pun menghadirkan rasa baru. Selain es suwet (susu dawet), ada juga es kopi klepon. Wajib dicoba, Mango Sunrise, perpaduan kunyit asam, sirop mangga dan jelly. Minuman pelepas dahaga sekaligus menyehatkan. Nyatanya, inovasi itu dilakukan bukan tanpa alasan. Keduanya ingin memperkenalkan cita rasa dan gaya tradisional ke khalayak muda. “Kami ingin menunjukkan kalau bahan herbal itu juga bisa dijadikan menu modern. Dan itu mau kami sampaikan ke anak-anak muda, bahan-bahan itu juga bisa jadi minuman kekinian. Bukan hanya jamu,” tambah Sharyn.

Sang adik, Chintya, menambahkan hal itu memang masih cukup asing bagi lidah beberapa pengunjung. Namun, mereka tetap ingin mempertahankan keunikan tersebut agar bisa diterima lebih luas.

“Beberapa orang masih ngerasa aneh. Tapi ada juga yang suka. Maklum, karena memang jarang bahkan mungkin tidak ada yang buat seperti ini,” imbuh remaja berusia 18 tahun itu.

Karena itu, ke depan Susanto bersaudara ingin berinovasi lebih. Menanamkan nilai tradisional di coffee shop modern mereka. Sharyn berharap, situasi yang saat ini masih di tengah pandemi, tidak menjadi kendala mereka untuk berkembang. “Harapannya pasti meningkat. Untuk inovasinya, bisa lebih kentara antara modern dan tradisionalnya. Dan menu-menu yang kami munculkan nantinya bisa diterima banyak orang,” kuncinya. (*/okt/dra/k8)