Roberto dan Julius Kwateh berusaha menemukan, memoles, dan menjual sendiri pemain binaan mereka. Semula hanya berniat membuka sekolah sepak bola, tetapi berubah sejak mereka ingin berkompetisi di Liga 3 Jogjakarta.

 

BAGUS P. PAMUNGKAS, Sleman

 

APA yang terlihat di bench Stadion Tridadi, Sleman, itu menjadi gambaran betapa bertolak belakangnya karakter kakak adik itu. Sang adik, Roberto Kwateh, tampak berapi-api. Sebaliknya, sang kakak yang lebih tua dua tahun, Julius Kwateh, terlihat lebih dingin.

Roberto lebih memilih berdiri sembari sesekali meneriaki para pemainnya. Julius lebih senang duduk, tetapi lirikan matanya sering tertuju kepada sang adik.

Pada Minggu sore di akhir November (28/11) itu, keduanya berada di bench tim Liga 3 Jogjakarta: JK United. Roberto, yang nyaris tak bisa duduk sepanjang laga, adalah pelatih kepala. Sementara, Julius, si kakak yang lebih banyak diam, merupakan pemilik sekaligus manajer tim.

Roberto pernah lama malang melintang sebagai striker di Liga Indonesia. Membela, antara lain, PSIS Semarang, Persib Bandung, Persiba Bantul, dan PSIM Yogyakarta. Dia kemudian menikahi perempuan Bantul, Citra Rusmawati. Dari pernikahan itu, dia dikaruniai tiga anak. Salah satunya, penyerang Madura United Ronaldo Kwateh.

Sejak kedatangannya ke Indonesia pada 2003, untuk kali pertama Roberto memiliki klub. Wajar kalau kemudian dia sangat antusias melatih. Apalagi, ini adalah musim pertama JK United yang baru berdiri sejak Agustus 2020 berpartisipasi di Liga 3 Jogjakarta.

Pada awal berdiri, klub tersebut bernama Julius Kwateh (JK) Academy & Agency. Awalnya, Julius bersama Roberto hanya ingin membuka sekolah sepak bola (SSB). Mereka memiliki empat tim kelompok umur.

Namun, semua berubah pada awal 2021. Julius maupun Roberto ingin ikut dalam Liga 3 Jogjakarta. ”Saya langsung mencari info ke Asprov (PSSI) Jogja, bagaimana sih syarat klub untuk bisa ikut Liga 3,” kata Roberto kepada Jawa Pos.

Ternyata mereka harus melebur alias merger dengan tim anggota Asprov PSSI Jogjakarta. Kebetulan, JK Academy & Agency sudah bekerja sama dengan PS Tamanan, klub asal Kauman, Bantul. ”Selama ini kami juga selalu berlatih di lapangan Tamanan. Jadi, sebelumnya ada MoU dengan mereka (PS Tamanan, Red),” ungkap Roberto.

Dari situ, kedua tim bersatu dan terjun ke Liga 3 Jogja dengan nama JK United. ”Kami tidak sulit mencari pemain karena memang sudah ada pemain di PS Tamanan. Tapi, kami tetap melakukan seleksi untuk beberapa posisi,” jelas pria 37 tahun tersebut.

Sayangnya, JK United gagal lolos ke babak enam besar. Mereka hanya meraih empat poin dari empat laga. Satu-satunya kemenangan yang diraih ya pada Minggu sore akhir November lalu di Stadion Tridadi, Sleman, itu. JK United mengandaskan PS Hizbul Wathan UMY tiga gol tanpa balas.

Karena musim debut, Roberto tak kecewa. Bagi dia, yang terpenting timnya bisa melahirkan bakat baru supaya bisnis agensi sang kakak bisa jalan.

Ya, sesuai dengan namanya, JK Academy & Agency tak hanya menampung bakat muda sepak bola. Tetapi juga menjadi pusat jual beli pemain alias agensi. Pemain dibina dan dicetak menjadi bintang. Tujuannya satu: dijual dengan harga yang mahal atas nama JK Academy & Agency. Roberto melihat konsep ini sangat baru dalam sepak bola Indonesia. Umumnya, di Indonesia, akademi dan agensi tak berada di bawah satu payung.

Julius, sang kakak, memang telah lama bekerja sebagai agen pemain. Beberapa nama besar masih menjadi kliennya. Sebut saja Zah Rahan Krangar, Sylvano Comvalius, hingga striker lokal Patrich Wanggai.

Selama ini dia menjadi agen untuk pemain yang sudah jadi. Dari situ, dia bersama sang adik punya ide: Kenapa tidak cetak pemain sendiri?

Dia optimistis konsep tersebut ke depan sangat prospektif. Sebab, banyak bakat bagus di sepak bola Indonesia. ”Kami bisa temukan sendiri, poles sendiri, lalu salurkan ke klub yang lebih besar dengan tangan sendiri,” papar Roberto yang menjadi WNI sejak 2016.

Dengan begitu, dia yakin lebih banyak pemain yang akan dihasilkan agensinya. ”Ini bisa dibilang sebagai industri baru dalam sepak bola,” jelasnya.

Ronaldo, anak Roberto, termasuk salah seorang pemain di bawah JK Academy & Agency. Selain striker Madura United itu, akademi sekaligus agensi yang baru berumur satu tahun tersebut sudah memiliki nama-nama lain. Misalnya, Yosi Kurniawan (Hizbul Wathan FC) serta tiga pemain Liga 3: David Kurniawan (Serpong City), Azkiya (Persiku Kudus), dan Pandu (Persenga Nganjuk).

Nah, di sinilah peran Kwateh bersaudara dibagi. Roberto, yang berpengalaman bermain di Liga Indonesia, menjadi pemimpin akademi sekaligus memantau bakat. Sementara, Julius sebagai agen bertugas mencari klub bagi pemain yang dianggap berkualitas. Beberapa kali Julius juga datang ke akademi klub yang lebih mapan. Bulan lalu, misalnya, dia baru saja bertemu dengan Gray Wilson, owner Bali Football Academy. ”Kami sama-sama berharap yang terbaik untuk masa depan pemain muda Indonesia,” tutur Julius singkat.

Sementara, Roberto kini terus melihat siapa-siapa pemain yang layak ditawarkan. ”Minimal harus bermain di Liga 2 atau bahkan di Liga 1. Intinya, klub yang kastanya lebih tinggi daripada klub kami (JK United),” jelasnya.

Karena itu, pemain yang ingin masuk JK Academy & Agency tak bisa sembarangan. Harus lebih dulu melalui proses seleksi. Saat seleksi pertama dibuka, sudah ada hampir 100 pemain yang diterima. Mereka dibagi dalam empat kelompok umur.

Roberto menuturkan, pemain yang bergabung dengan JK Academy & Agency tak perlu khawatir. Sebab, pihaknya tak hanya mengasah bakat pemain. ”Kami juga siap membantu pemain untuk mendapatkan karier yang lebih bagus. Jadi, JK Academy & Agency ini bukan untuk main-main,” jelas pria yang pernah menangani tim junior Persib Bandung tersebut.

Ronaldo adalah contoh paling sahih. Baru berusia 16 tahun, dia sudah dikontrak Madura United. Kemudian, Ronaldo juga tercatat sebagai pemain termuda yang tampil dalam sejarah Liga 1 pada usia 16 tahun 10 bulan 15 hari. Debutnya itu dilakukan saat Madura United menghadapi Persikabo 1973 pada 3 September lalu. Performa apiknya itu berlanjut dengan masuk dalam skuad timnas U-23 yang menjalani training center di Turki.

Roberto mengisahkan, sang anak memang gila bola sejak kecil. ”Umur 5 tahun sudah saya masukkan ke salah satu sekolah sepak bola,” kata pria kelahiran 11 Agustus 1984 tersebut.

Setelah itu, pada 2016, Ronaldo sempat masuk dalam tim junior Persiba Bantul. Kebetulan, Roberto yang menjadi pelatihnya saat itu. Saat Roberto pindah menjadi pelatih Persib Bandung U-20, sang buyung pun ikut diboyong ke Bandung. ”Saya senang karena dari kecil Ronaldo ikut SSB. Jadi, dia tahu bagaimana jadi pemain yang benar,” tegasnya.

Dia berharap magisnya kepada sang anak menular ke pemain JK Academy & Agency. Dia akan melakukan apa yang sudah diberikannya kepada Ronaldo. ”Sepak bola ini sama dengan akademik. Ke depan, saya harap pemain kami bisa mencapai level yang semakin tinggi dan tinggi,” tuturnya. (*/c14/ttg)