HARGA cabai di semua pasar-pasar tradisional di Kaltim mengalami kenaikan. Tingginya harga cabai itu sudah berlangsung sejak awal Desember. Suatu hal yang wajar setiap akhir tahun jelang Natal dan tahun baru. Bahkan hingga sekarang harga cabai juga masih bertahan mahal.

Seperti yang terlihat di Pasar Segiri, Samarinda harga cabai rawit menembus Rp 120 ribu per kilogramnya. Udin, salah satu pedagang di pasar itu mengungkapkan kenaikan harga cabai bermula sejak awal Desember. “Memang dari agennya sudah naik,” kata dia.

Menurutnya, memang wajar jelang Natal dan tahun baru, harga sembako termasuk cabai itu melonjak. Namun, harusnya tak sampai lebih Rp 100 ribu. Meski begitu, diakuinya ada hal lain yang mungkin memengaruhi. Misalnya cuaca. “Ini ‘kan musim hujan juga. Jadi, petani tidak bisa panen,” sambungnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim Siti Farisyah Yana menyebut, kenaikan harga saat ini diakibatkan meningkatnya permintaan konsumen karena ada perayaan Natal dan tahun baru.

Menurutnya, selain produksi dari lokal, cabai juga didatangkan dari beberapa daerah. Kenaikan harga itu bisa jadi ada keterlambatan di dalam transportasinya. Yana menyebut, tiga tahun lalu harga cabai di Kaltim pernah mencapai Rp 250 ribu per kilogramnya.

Itu disebabkan karena ada pedagang yang menjual dengan harga tersebut, sehingga lainnya ikut juga menjual dengan harga yang sama. Itu bukan karena ketersediaan kosong, dari sisi laporan stok aman sampai akhir tahun. Yana berharap kepada masyarakat agar tidak panik dengan kenaikan harga cabai.

Perhatian soal cabai, sudah diberikan sejak dulu. Ketika menyambangi kebun cabai di Kutai Barat, Yana menyebut neraca bahan pangan cabai ketersediaan hanya 1-2 bulan. Itu artinya sangat rawan bila suplai tidak terus-menerus. Saat ini juga ketergantungan pasokan cabai dari Jawa dan Sulawesi masih terjadi.

“Sejauh ini, 40 persen (cabai) dipasok dari luar. Kalau iklim kurang baik atau hari besar, biasanya harga meningkat. Sentra cabai kita di Kukar. Kutai Barat juga sangat bagus kondisi alamnya,” jelas Yana.

Tantangan saat ini adalah lahan yang bagus tapi tinggal membina ke sumber daya manusia. Maka itu jadi pekerjaan rumah untuk memperkuat pengetahuan petani. Di sisi lain, perbaikan akses menjadi sangat penting. Termasuk pengembangan teknologi pertanian. Sehingga, produksi cabai bisa maksimal.

Hal itu diamini Suhendro Aryanto. Dia adalah petani di Barong Tongkok, Kutai Barat. Sejak 2008, Suhendro menjadi petani. Dia biasanya menanam sayuran termasuk cabai. Hasil produksinya, dikirim untuk keperluan di Kubar hingga Samarinda.

Bertani sejak 2008, Suhendro mengaku ada perubahan cara bertani. Makin ke era kini, pola bertaninya tak lagi manual. Sejumlah alat sudah dia pergunakan. “Kami perlahan menggunakan alat sistem pertanian. Seperti kami dapat bantuan penggembur tanah dari pemerintah,” beber Suhendro.

Jika dahulu dia mencangkul, sekarang pakai alat. Menanam aneka sayur termasuk cabai di lahan 25 hektare pun dirasa lebih mudah. Suhendro mengatakan, hanya dari bertani, sudah cukup untuk keperluan sehari-hari. Meski begitu, Suhendro mengaku masih punya masalah. Saat ini, produknya bisa sampai Samarinda, namun masalah pemasaran masih jadi momok bagi dia dan rekannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil (Disperindagkop dan UKM) Kaltim Muhammad Yadi Robyan Noor mengatakan, cabai itu memang menjadi salah satu komoditas yang sering mengalami kenaikan. Apalagi keperluan cabai masih didatangkan dari luar Kaltim, utamanya Sulawesi Tengah dan Jawa Timur.

Kenaikan harga saat ini disebabkan musim panen cabai pada Juli-Agustus sudah selesai. Kemudian saat ini sedang memasuki musim penghujan. Tingginya curah hujan membuat produksi tidak maksimal. Banyak cabai yang busuk sehingga produksi menurun. Sedangkan produksi lokal di Kaltim masih sangat rendah. Setidaknya, hanya 30 persen dari keperluan.

Di tengah pasokan yang tak maksimal, saat Kaltim juga menyambut perayaan Natal dan tahun baru. Sehingga, konsumsi masyarakat meningkat. Seperti hukum ekonomi, karena cabainya sedikit di sisi lain permintaan tinggi, maka harga menjadi naik. “Tapi, saya pastikan stok cabai aman terjaga sesuai keperluan masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini kenaikan harga cabai tidak hanya terjadi di Kaltim. Namun, hampir seluruh daerah di Indonesia mengalami hal serupa, yang disebabkan lewatnya masa panen serta masuknya musim hujan.

Apalagi, ucap dia, isu kelangkaan persediaan, gagal panen, dan tingginya ketergantungan terhadap stok dari luar Kaltim, merupakan beberapa isu yang selalu muncul, terutama menjelang hari besar keagamaan seperti saat ini. Sehingga, pihaknya sudah cek langsung ke lapangan, dipastikan stok cabai cukup.

“Kami juga mengimbau masyarakat, jika kesulitan mendapatkan cabai karena harganya tinggi, maka bisa beralih jangan makan cabai tradisional. Bisa cabai yang sudah jadi dalam bentuk kemasan atau berupa sambal,” kata pejabat yang akrab disapa Roby itu.

Dia menjelaskan, harga cabai di Kaltim memang meningkat, namun tidak lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Jika biasanya harga cabai hanya Rp 35-40 ribu per kilogram, sampai Jumat (24/12), harga cabai rata-rata di seluruh pasar di Kaltim menyentuh Rp 100 ribu per kilogram.

Roby menegaskan, kenaikan harga cabai murni karena berkurangnya pasokan dari daerah penghasil. Jika dilihat dari awal rantai distribusi sampai konsumen harga sudah naik. Sehingga, tidak ada indikasi pedagang memainkan harga jelang hari besar keagamaan nasional (HBKN) dan mengambil untung lebih banyak, atau masyarakat borong dan sebagainya. (rom/k15)