Walau belum bisa sepenuhnya lepas dari batu bara serta minyak dan gas bumi (migas), Kaltim secara perlahan mulai meningkatkan kinerja ekspor dari produk jadi. Dari tahun lalu, hanya ada tujuh UMKM yang mampu menjadi eksportir, kini sudah mencapai 35 pelaku usaha.

 

SAMARINDA - Nilai ekspor Kaltim pada Oktober 2021 mencapai USD 2,91 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 21,35 persen dibandingkan September 2021. Sementara bila dibandingkan Oktober 2020 mengalami kenaikan sebesar 217,04 persen. Kenaikan ekspor ini membawa Kaltim menduduki posisi kedua dengan peranan ekspor terbesar di Indonesia.

Tingginya ekspor Kaltim diharapkan berasal dari produk-produk jadi. Sehingga, pemprov tahun depan akan bekerja keras menggali potensi produk berkelanjutan. Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengatakan, saat ini produk-produk Kaltim yang diekspor meliputi amoniak, gas, batu bara, minyak goreng curah, jelantah, plywood, moulding, pisang, damar batu, ikan asin, kepiting, dan udang.

Namun, sayang masih didominasi oleh pertambangan batu bara dan migas. “Tahun depan, harus lebih baik lagi karena ekspor kita adalah produk berkelanjutan. Kita tidak akan bergantung lagi dengan migas dan batu bara,” tuturnya, Minggu (26/12).

Saat ini, Pemprov Kaltim menetapkan kebijakan transformasi ekonomi, dari ekonomi berbasis sumber daya alam yang tak terbarukan, menjadi sumber daya alam terbarukan. Untuk itu, pihaknya mengapresiasi kinerja usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang sudah berhasil melakukan ekspor. Hal ini mendukung Kaltim melakukan transformasi ekonomi.

Selain itu, Kaltim bangga karena bisa berkontribusi mendukung arah kebijakan ekonomi nasional dalam pemberdayaan UMKM. Pada 2020 hanya ada tujuh pelaku ekspor di Kaltim. Tahun ini, ada 35 pelaku ekspor. “Ini menjadi prestasi dan kebanggaan bagi Kaltim yang mampu mengelola sumber daya alam hingga bisa terus meningkatkan ekspor. Di sisi lain, kita dipercaya internasional untuk bisa menjaga hutan dengan kompensasi dana karbon USD 110 juta mulai tahun 2022, 2023, dan 2024,” katanya.

Hadi memberikan apresiasi tinggi kepada para pelaku UMKM yang mampu tetap eksis di masa pandemi Covid-19. Pihaknya bangga dengan UKM Kaltim yang tetap eksis, kreatif dan inovatif, bersemangat meski menghadapi pandemi. Kreativitas yang membuat UKM bisa terus eksis bisa dilihat dengan tingginya angka ekspor Kaltim tahun ini. Sebab, saat ini sudah banyak UMKM yang melakukan ekspor, sehingga sedikit demi sedikit menggeser ketergantungan Kaltim terhadap ekspor batu bara.

Pengembangan UMKM merupakan langkah konkret untuk peningkatan percepatan ekspor non-migas dalam upaya pemulihan ekonomi nasional maupun di Kaltim. Peningkatan ekspor secara otomatis mendorong investasi dan menumbuhkan perekonomian nasional. “Potensi ekspor berkelanjutan dari UMKM masih terbuka lebar, berbagai produk memiliki potensi luar biasa,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)