Hari Ibu tahun ini, menjadi hari sedih dan pedih bagi Saniatun (32). Sebab, jabang bayinya justru lahir di mobil, akibat ditolak saat hendak melahirkan di puskesmas.

 

CUACA cerah, malam berbintang. Sekitar pukul 23.30 Wita, Rabu (22/12), Saniatun merasakan sakit perut. Rupanya anak ketiga yang dikandungnya sudah tak sabar ingin melihat dunia. Tak menunggu lama, bersama suami dan dua kerabatnya, Saniatun langsung pergi ke Puskesmas Kariangau. Ini layanan kesehatan paling dekat dari kediamannya.

Warga RT 14 Kelurahan Kariangau, Balikpapan Barat ini tiba di puskesmas sekitar 10 menit kemudian. Setibanya di puskesmas 24 jam ini, ia disambut dua petugas, dan sempat dilakukan pemeriksaan. "Kata petugasnya di sana masih bukaan empat. Nah, kata mereka nggak bisa lakukan persalinan di situ karena nggak ada dokter jaga. Jadi, disuruh bawa ke Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) aja," kata Aprianto, salah satu kerabat Saniatun yang bertutur kepada Kaltim Post.

Karena tak ada dokter jaga untuk persalinan, mereka pun menuju RSKD. Namun baru keluar pintu puskesmas, rupanya air ketuban Saniatun pecah. Petugas membantu mengeluarkan kursi roda untuk Saniatun. “Tetapi tidak ke ruang penanganan, justru kursi roda yang dibawa, didorong ke mobil saya, lalu menyuruh segera ke RSKD. Katanya ini masih sempat,” katanya.

Ia mencoba meminta puskesmas untuk membawa Saniatun ke RSKD menggunakan ambulans. Karena memang di puskesmas ada mobil ambulans. Namun, petugas puskesmas tak mengabulkan, dan tetap menyarankan pasien ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi. "Saya sempat bilang, pakai ambulans saja biar cepat. Kata petugasnya pakai mobil pribadi saja," imbuhnya.

Tanpa berpikir panjang, ia dan suaminya pun bergegas ke rumah sakit. Tidak jauh dari puskesmas, Saniatun pun akhirnya melahirkan di dalam mobil. Sang bayi dipegang suami Saniatun, sementara tembuninya masih berada dalam perut sang ibu. "Sekitar jam 12 malam, persis di depan Kuburan Muslim di Kariangau dekat Lapangan Golf Karang Joang. Ya kami yang tidak mengerti medis, sangat panik dan buru-buru ke rumah sakit," ungkapnya.

Akhirnya, ia dan suami memutuskan melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi. Beruntung sang bayi dan ibunya selamat, dan kini dalam perawatan di RSKD. “Saya pikir kalau pakai mobil ambulans kan bisa cepat. Ya ini pelayanannya bagaimana. Kami tinggal di Kariangau ini, hanya ada puskesmas ini untuk layanan kesehatan,” katanya.

Bagaimana Kepala DKK Balikpapan Andi Sri Juliarty mengomentari hal ini? Ia mengatakan DKK telah menugaskan tim ke Puskesmas Kariangau. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga pasien. Setelah kejadian ini, tentu pihaknya akan melakukan evaluasi dan memberikan pembinaan kepada petugas pelayanan di puskesmas tersebut. "Atas nama pimpinan, kami mohon maaf dengan kejadian ini dan akan mengevaluasi atau membina tim Puskesmas Kariangau," katanya. (aji/ms/k15)