MENTERI Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa saat berkunjung ke lokasi IKN baru, ia menginap semalam di Guest House Rumah Dinas Bupati Penajam Paser Utara (PPU) di Sepaku.

Di depan tokoh masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah kala itu, ia menegaskan apapun konteksnya IKN adalah Indonesia-sentris. “Bukan Kalimantan-sentris, bukan Jawa-sentris, tetapi sebuah kebanggaan dari perspektif Indonesia-sentris dan itu tecermin dari kekuatan Kaltim yang heterogen,” kata Menteri Suharso Monoarfa, baru-baru ini.

Dalam pertemuan dihadiri Gubernur Kaltim Isran Noor, Bupati PPU Abdul Gafur Mas'ud, Camat Sepaku Risman Abdul, Wakil Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Muhammad Mashuri, Dosen Universitas Mulawarman (Unmul) Ndan Imang, hingga sejumlah tokoh agama, adat, dan pemuda Paser tersebut, seperti dikutip media ini dari laman Bappenas, menteri menegaskan, aspek sosial budaya, terutama peran masyarakat lokal, menjadi salah satu fokus utama dalam pembangunan IKN.

“Jangan memisahkan, seolah ada batas, tabir yang tak terlihat antara IKN dan bukan IKN. Kita akan berakulturasi dengan masyarakat lokal, tidak menimbulkan sentimen karena ingat, ini Indonesia-sentris, mengusung kesatuan, kebersamaan, keunggulan kita sebagai bangsa yang semakin majemuk, justru akan semakin solid,” ungkap Menteri Suharso.

Keterlibatan para tokoh, akademisi, hingga pemerintah daerah, kata dia, sangat penting untuk keseluruhan tahapan pembangunan IKN, khususnya rekomendasi penguatan dari aspek sosial budaya. Hal itu penting mengingat pada 2045 mendatang, penduduk di wilayah IKN diproyeksikan akan mencapai 1,7–1,9 juta orang dan wilayah Kaltim 10–11 juta orang.

Dikatakannya, sejumlah strategi diusung agar proses akulturasi budaya dan pemerataan kesempatan kerja di IKN, yakni mendukung pengembangan informasi pasar kerja untuk mengurangi hambatan masuk pasar kerja, peningkatan kapasitas pelatihan melalui penguatan balai latihan kerja milik kementerian/lembaga dan daerah (sarana, prasarana, dan instruktur).

Selain itu, peningkatan akses dan kualitas infrastruktur pendidikan dan kesehatan, fasilitasi tumbuhnya wirausaha dan UMKM, serta menjaga praktik-praktik kebudayaan lokal dan kohesi sosial antara penduduk lokal dan pendatang. (ari/kri/k8)

 

-----