Studi kelayakan rencana pembangunan terowongan (tunnel) di Kelurahan Sungai Dama, Kecamatan Samarinda Ilir, menyatakan kawasan tersebut layak dibangun. Hal itu berdasarkan presentasi final penyusunan dokumen studi kelayakan, di Balai Kota, Rabu (22/12).

 

SAMARINDA–Wali Kota Samarinda Andi Harun menuturkan, konsultan telah melakukan kajian dengan ruang lingkup meliputi survei geoteknik dan geofisika, analisis data lapangan, dan perencanaan basic struktur terowongan.

Selain itu, meliputi penggambaran hasil terowongan hingga perhitungan perkiraan biaya konstruksi terowongan. “Dari aspek perencanaan terowongan, meliputi aspek geologi, geoteknik dan struktur, menyatakan kawasan tersebut bisa bangun terowongan,” ucapnya ditemui setelah rapat.

Pada megaproyek tersebut, politikus Partai Gerindra Kaltim itu menyatakan, menggunakan skema pembiayaan tahun jamak (multiyears contract), terhitung 2022–2024 (lihat infografis). Selanjutnya, 2022 mendatang, proyek itu akan memasuki tahap lelang pekerjaan fisik. “Estimasinya April mulai bekerja,” ujarnya.

Sedangkan rencana fisik terowongan, memiliki spesifikasi 710 meter, dengan perincian dari titik masuk jalur masuk (non-tunnel) 115 meter, terowongan pertama 260 meter. Terdapat area terbuka (open cut) sepanjang 60 meter, terowongan kedua 120 meter, dan jalur keluar (non-tunnel) sepanjang 115 meter. “Semua kajian sudah dilakukan termasuk history kebencanaan di sana, yang pasti pada area radius 50 meter kiri-kanan, serta bagian atas terowongan akan disterilkan dari bangunan, dan akan diubah menjadi ruang terbuka hijau (RTH),” sambung pria yang akrab disapa AH.

Lebih detail, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Hero Mardanus menambahkan, jalur terowongan akan dibuat satu jalur. Titik masuknya dari Jalan Sultan Alimuddin menuju Jalan Kakap. Sedangkan untuk detail engineering design (DED) juga akan mulai dikerjakan awal 2022 mendatang. “Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanahan untuk memulai proses pembebasan lahan. Total kebutuhan sekitar Rp 30 miliar, tahun depan dianggarkan Rp 10 miliar. Dikerjakan bertahap,” jelasnya.

 

WARGA MINTA DIKAJI ULANG

Rencana pembangunan terowongan mendapat sanggahan dari warga, yang memiliki harapan besar megaproyek itu tidak jadi dibangun di sana. Hal itu lantaran berbagai aspek, misalnya history kawasan permukiman hingga kemudahan akses menuju pusat kota.

Ketua RT 7 Kelurahan Sungai Dama Bahaudin menuturkan, dia bersama warganya serta beberapa RT proyeksi terdampak sudah menggelar rapat di kantor kelurahan pada pekan kedua Desember lalu. Kesimpulannya, meminta pemkot menimbang lebih jauh pembangunan mega proyek itu. “Kami mendukung program pemerintah, tapi berharap tetap bisa tinggal di sana,” ucapnya.

Beberapa alasannya antara lain, banyak warga salah satu dirinya yang tinggal sejak lama di sana, di mana mayoritas merupakan warga pendatang dari Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sementara sisi lain, para ibu di kawasan tersebut banyak yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di kawasan kota, selama ini dimudahkan akses menuju tempat bekerja. “Begitu juga anak-anak mudah menjangkau sekolah,” ungkapnya.

Dia berharap, pemerintah bisa bertemu dengan harapan menyampaikan aspirasi warga. “Kami sendiri sudah tinggal sejak 1970-an, banyak keluarga juga yang datang. Kawasan itu seperti kampung halaman utama bagi kami,” tutupnya. (dns/dra/k8)