Juergen Klopp tidak hanya jago meracik strategi. Tactician Liverpool FC itu juga pintar mencari-cari kesalahan ketika timnya tidak bisa meraih kemenangan. Seperti alasan Klopp ketika LFC ditahan 2-2 di kandang Tottenham Hotspur dalam Premier League akhir pekan lalu (19/12).

Klopp menyebut Spurs yang memainkan skema 5-3-2 hanya mengandalkan serangan balik lawan LFC. ”Ketika mereka (Spurs) mendapatkan bola, mereka menendang sejauh mungkin untuk (Harry) Kane dan Son (Heung-min),” sindir pelatih yang akrab disapa Kloppo tersebut. Padahal, kalau memerhatikan jalannya pertandingan, Spurs juga beberapa kali melakukan serangan lewat permainan terbuka.

Jumlah tembakan tepat sasaran tim asuhan Antonio Conte itu pun hanya beda tipis dengan LFC (5 banding 6). ”Klopp tentu tidak bisa mengharapkan lawan bermain dengan skema yang mendukung strateginya untuk menang,” ulas Football London. Sikap Klopp seolah menambah panjang pernyataan yang terbilang konyol dari pelatih asal Jerman tersebut ketika LFC –julukan LFC–mendapat hasil mengecewakan.

Khususnya ketika tereliminasi dari sebuah ajang fase gugur. ”Pelatih masih marah (atas hasil seri lawan Spurs, Red),” ucap pemain LFC yang enggan disebut namanya kepada talkSPORT. Kondisi itu tentu diharapkan tidak semakin menjadi-jadi ketika LFC menghadapi Leicester City dalam perempat final Piala Liga di Anfield dini hari nanti 

(siaran langsung Mola TV pukul 02.45 WIB)
.

Meski terbuka kemungkinan The Reds tidak memainkan para pemain utama seperti Mohamed Salah, Sadio Mane, Jordan Henderson, dan Alisson Becker, Klopp pun tentu tidak berharap tereliminasi.

Apalagi, Leicester City datang dengan kondisi bugar. Kali terakhir Kasper Schmeichel dkk tampil adalah saat menghancurkan Newcastle United empat gol tanpa balas lebih dari sepekan lalu (12/12). Asisten pelatih LFC Pep Ljinders yang memberikan pernyataan dalam pre-match press conference di AXA Training Ground tadi malam membenarkan kondisi Klopp yang masih baper (terbawa perasaan) saat ini.

Ditambah banyak kritik atas sikap intimidatif Klopp di hadapan wasit Paul Tierney setelah laga melawan Spurs. ”Juergen (Klopp) adalah sosok yang fair. Dia juga akan marah kalau dalam skuad kami ada pemain atau staf yang membuat kesalahan,” ucap Ljinders kepada Liverpool Echo.

Ketimbang amarah Klopp, Ljinders lebih senang membahas tantangan di lapangan dini hari nanti. Menurut pria yang juga pernah menjadi asisten Brendan Rodgers (saat ini pelatih Leicester City) itu, LFC tetap menaruh atensi tinggi di Piala Liga. Terlebih, LFC tidak lagi juara Piala Liga sejak 2011–2012 dan musim lalu malah tersingkir sejak putaran keempat. Saat itu LFC angkat koper di kandang sendiri setelah kalah oleh Arsenal lewat babak adu penalti 4-5. ”Kami mungkin tidak memprioritaskan (Piala Liga). Tetapi, tim ini selalu menganggap setiap laga selayaknya pertandingan final,” tutur Ljinders. (jpc)