Pembangunan jalan antarkampung untuk mendongkrak ekonomi masyarakat di Kutai Barat (Kubar) menjadi perhatian pemerintah daerah. Namun, laju pembangunan infrastruktur itu dianggap belum maksimal.

 

SENDAWAR - Sejumlah kendala dihadapi pemerintah daerah. Tidak hanya soal geografis Kubar yang sulit, ditambah pengalihan sejumlah dana dalam penanganan Covid-19.

Sejumlah warga sangat berharap Pemkab Kubar lebih memfokuskan pembangunan akses jalan. Alasan warga karena akses jalan menjadi pilihan utama meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tidak memudahkan akses mobilisasi hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan.

“Di samping itu, kami membeli sembako di perkotaan biar lebih murah. Tapi selama ini kami harus membeli mahal. Karena sulitnya membawa angkutan sembako yang dibeli di ibu kota kabupaten dan kecamatan kemudian dibawa ke kampung,” kata Aleq, warga Kecamatan Muara Pahu kepada media ini, kemarin.

Hal senada dikatakan Kepala Kampung Muara Beloan Rudi. Seperti Kampung Muara Beloan, kata Rudi, yang hanya berjarak sekitar 40 kilometer ke ibu kota kabupaten. Namun, sepertinya akses kedua jarak itu sangat jauh.

“Bayangkan dari Muara Beloan ke Melak saja hampir 1 sampai 2 jam. Jalan lumpur. Jika jalan mulus, bisa hanya 25 menit,” katanya.

Meski demikian, dia mengaku berterima kasih kepada Pemkab Kubar. Sebab, tahun anggaran 2020 sudah ada perhatian Pemkab Kubar meningkatkan badan jalan sekitar 1,8 km. Kemudian tahun 2021, ada penambahan lagi peningkatan jalan.

Namun, kondisi jalan itu jika banjir masih rendah, sehingga diharapkan bisa tahun depan ditingkatkan lagi kemudian disemenisasi. Harapannya, jika hujan, tidak rusak lagi.

Sementara itu, Bupati Kubar FX Yapan mengatakan, pemkab tidak tinggal diam termasuk jalan poros antarkecamatan dan kampung memang selalu menjadi perhatian. Apalagi diketahui masih banyak jalan poros tersebut yang memang kondisinya saat ini sulit untuk dilewati karena rusak.

Seperti yang terdapat di beberapa kecamatan yakni Jempang, Penyinggahan, Muara Pahu, Bentian Besar, Mook Manor Bulatn, Damai, dan Bongan yang memiliki beberapa kampung di dalamnya.

“Bahwa pembangunan dan perbaikan jalan poros ini tetap terus dilakukan setiap tahunnya. Namun, proses pengerjaan jalan-jalan tersebut memang membutuhkan proses yang lama,” kata bupati dua periode ini.

Dia menyebutkan, tiap tahun dianggarkan untuk perbaikan jalan ini. “Tapi karena jalan yang diperbaiki tidak hanya satu, makanya butuh proses yang lama secara bertahap. Sebab, pengerjaan perbaikan dan peningkatan jalan ini kan baru mulai diperhatikan saat saya menjabat kepala daerah periode pertama, kemarin,” katanya.

Dalam perbaikan dan pembangunan jalan poros ini, menurut dia, tidak ingin hanya asal bisa selesai saja. Tetapi jalan tersebut bisa memiliki kualitas bagus dan tahan lama, sehingga hal ini memang membutuhkan proses yang cukup lama.

“Kalau cuma mau asal diaspal mulus saja memang bisa, tapi nanti pasti rusak lagi. Jadi sekalian saja kita buat yang bagus, sehingga bisa tahan lama,” terangnya. (rud/kri/k16)