Nofiyatul Chalimah - Kutai Barat

 

 Linggang Melapeh sudah dikenal bagi para pelancong wisata alam dengan Danau Aco dan Jantur Tabalasnya. Tetapi, pandemi covid-19 berdampak bagi kedatangan wisatawan ke desa ini.  Pengunjung tak ada, Danau Aco sepi, bahkan mainan bebek air juga rusak akibat lama tak disentuh. Maka dari itu, masyarakat ini membuat  festival untuk menarik wisatawan. Sekaligus memperkenalkan lagi wisata budaya dan produk pangan lokal.

Di Luuq Melapeh atau lamin besar yang ada di kampung ini, mereka mempersiapkan festival yang digelar pada 4 Desember 2021. Bergotong royong, mereka mulai dari  memasak makanan, mendirikan gapura, membangun booth-booth pameran dari bambu, dan membuat kerajinan untuk dipamerkan.

Tangan lelaki paruh baya bernama Hira M pun turut cekatan menganyam rotan untuk jadi gawakng atau sebuah tas gendong kecil. Dia tidak sendiri menganyam, para kerabatnya yang mahir membuat kerajinan ini juga asyik sendiri dengan rotan yang sudah mereka belah tipis-tipis itu.

"Buat sendiri biasa di rumah. Kalau ada pesanan, jual harganya sampai Rp 200 ribu. Prosesnya bisa semingguan. Kami senang ada festival ini, bisa buat tambahan pemasukan dari orang yang datang ke kampung. Biar kampung ramai lagi. Makanya, kami tidak mau ada tambang dan sawit. Dari berkebun karet, durian, dan bikin kerajinan saja, saya bisa kuliahkan anak. Warga-warga di sini juga begitu," cerita Hira.

Selain Hira, ada macam-macam gerai yang dibuat warga kampung. Mulai untuk memamerkan kerajinan rotan, hasil pertanian lokal seperti jelai, hingga kopi khas kampung ini yang bernama Kopi Linggang. 

Gerai pameran warga ini didirikan di bawah Lamin Luuq Melapeh. Pengunjung bisa membeli kerajinan buatan tangan masyarakat. Termasuk, bisa langsung dianyamkan gelang simpai di tangan atau kaki, yang merupakan kerajinan khas masyarakat dayak. Juga membeli motif kriookng yang sudah dipatenkan, langsung dari pencipta motif.

Di tempat ini pula, permainan tradisional juga dilakukan seperti be'logo. Sedangkan di dalam lamin, tarian juga dipamerkan dari beragam kelompok tari di Linggang Melapeh dan kampung-kampung lain di Kutai Barat.

Festival ini tidak hanya dimeriahkan warga Linggang Bigung saja. Mereka yang berasal dari daerah lain juga turut datang untuk mengikuti keseruan festival. Ketika lelah, pengunjung juga bisa menikmati Kopi Linggang langsung di Kedai Kopi yang berada di sebelah lapangan depan Lamin Luuq Melapeh. 

Ari Wibowo, staff dari World Wide Fund (WWF) yang mendampingi warga kampung mempersiapkan festival ini, mengatakan awalnya mereka berniat membuat semacam pelatihan, dan tak ada niat membuka gerai pameran. Namun, warga kampung begitu antusias dan berinisiatif membuat festival sekalian. Bambu-bambu pun dibawa dari hutan untuk menyekat kolong lamin menjadi gerai-gerai pameran. Sebab pandemi juga belum selesai, gelaran ini juga tetap dilaksanakan dengan protokol kesehatan.

"Semua terlibat dari yang tua sampai yang muda. Ini menyenangkan sekali, semuanya kompak. Semoga tahun depan, bisa dibuat lagi," pungkas Ari.