SAMARINDA–Pada 2020, Pemkot Samarinda membangun kawasan gedung adat suku Banjar, Kutai, dan Dayak (Bakuda) di Jalan Kadrie Oening, Kecamatan Samarinda Ulu. Anggaran Rp 4,8 miliar dikucurkan dari APBD Perubahan 2021 mendirikan empat bangunan rumah adat ketiga suku tersebut, termasuk satu bangunan yang direncanakan untuk penjualan suvenir hingga area parkir di lahan seluas 3.400 meter persegi.

Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda Cecep Herly melalui Kepala Seksi (Kasi) Cipta Karya Agus Widodo menuturkan, pembangunan di 2020 sudah mencapai 100 persen, tetapi hanya bangunan inti. Selanjutnya di 2021, melalui dua mata anggaran APBD murni dan APBD perubahan, dibangun beberapa bangunan penunjang. “Masing-masing tidak sampai Rp 200 juta, sehingga menggunakan sistem penunjukan langsung (PL),” ucapnya, Rabu (15/12).

Dia memerinci terhadap anggaran murni, pembangunan yang dilakukan meliputi pos penjaga dan pagar bagian depan. Berlanjut anggaran perubahan, membangun toilet dua pintu, jalur pejalan untuk disabilitas, serta pembangunan enam titik tiang lampu penerangan. “Tiap bangunan punya meteran listrik masing-masing, serta jaringan air juga sudah ada. Saat ini pelaksana masih melakukan beberapa pekerjaan. Target rampung akhir Desember,” ujarnya.

Selanjutnya, untuk pemanfaatan gedung, Agus Wi, sapaan akrab Agus Widodo, menyebut, setelah pekerjaan selesai, dari Dinas PUPR akan diserahkan ke pemkot, kemudian diserahkan kepada OPD yang berwenang mengelola. Bisa saja ke Dinas Pariwisata atau ke Dinas Kebudayaan. “Yang pasti kami hanya sebatas pembangunan fisik, ke depan untuk kelengkapan mebel, aksesoris hingga operasional, akan menjadi tanggung jawab OPD yang diberi wewenang,” tutupnya. (dns/dra/k16)