ADANYA imbauan tidak boleh berkerumun hingga keluarnya surat edaran mengenai kapasitas maksimal keterisian gedung, membuat perayaan Natal 2020 lalu dilakukan tiga sesi di Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi, Samarinda.

Gereja Paroki Katedral ini terdiri dari tiga lantai. Pertama yakni basemen, lantai utama dan balkon. Disebutkan Theodorus Meko Koten atau biasa disapa Teddy selaku sekretariat gereja, bangunan itu bisa menampung hingga 4 ribu umat.

“Untuk gereja ini kami memiliki sekitar 5 ribu umat yang tersebar di seluruh Samarinda. Dari awal desain pembangunan gereja, memang sudah dimaksudkan untuk bisa menampung banyak umat, apalagi khususnya pada perayaan ibadah Natal dan Paskah,” jelasnya.

Pada Natal tahun lalu, supaya bisa menampung seluruh umat untuk melaksanakan misa, dibagi menjadi tiga sesi. Dimulai dari sore hingga malam. Durasi masing-masing kegiatan misa yakni 1,5 jam.

“Selain di dalam gereja, kita juga manfaatkan ruangan basemen yang bisa tampung sampai seribu orang. Kita juga pakai aula di atas pastoran ini, jadi memang kita upayakan dan maksimalkan,” ungkapnya saat ditemui di pastoran, bangunan yang berdiri persis di samping katedral.

Ternyata, tak semua kursi di basemen terisi penuh, sehingga cukup lowong. “Padahal tentu sudah kita kasih jarak sesuai protokol kesehatan. Jadi tahun ini, pelaksanaan ibadah misa kita dua kali. Ada live streaming juga lewat YouTube dan akun Facebook gereja,” jelasnya.

Disebutkan sistem ibadah di katedral sejak dahulu menggunakan sistem lingkungan atau kelompok. Ada 19 kelompok se-Samarinda yang masing-masing terdiri dari puluhan hingga ratusan umat.

Jadi, saat ibadah, sesuai dengan jadwal yang sudah dibagi. Teddy menjelaskan, pada misa satu 24 Desember nanti dimulai pada 17.30 Wita. Diikuti oleh 10 kelompok. Masing-masing kelompok sudah mendapat jadwal, misal bagian tata tertib.

“Dan biasanya satu jam sebelum misa itu sudah ramai orang datang, supaya bisa kebagian tempat di dalam gereja. Jadi, sekali misa itu bisa sekitar tampung 2 ribu umat. Pembatasan tempat duduk sudah pasti, di kursi panjang itu bisa tampung 5-6 orang, sekarang maksimal tiga saja,” bebernya.

Tema yang diusung katedral Natal kali ini yakni “Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan”. Perayaan Natal dibagi menjadi empat perayaan. Dimulai dari malam natal dengan dua sesi misa. Lalu Natal 25 Desember dengan dua sesi misal, pagi pukul 08.30 dan sore 18.00 Wita.

Kemudian hari keluarga kudus pada 26 Desember dengan tiga sesi misa. Dan terakhir, hari Maria Bunda Allah atau hari penampakan Tuhan selama dua hari pada 1 dan 2 Januari 2022. Dengan 19 kelompok dibagi empat sesi misa.

Teddy menyebutkan, sejauh ini para umat sudah paham mengenai tata cara ibadah di katedral. Sesuai jadwal kelompok lingkungannya. Selain itu, sesuai protokol kesehatan dan pembatasan tempat duduk, gerbang akan ditutup bila kapasitas penuh.

Seluruh proses ibadah tetap disiarkan via live atau streaming. Disebutkan Teddy jika ada beberapa umat yang tidak memungkinkan hadir seperti lansia, mereka yang sakit yang masih khawatir dengan kondisi Covid-19.

Begitu juga yang dijelaskan Ester Duma, pendeta Gereja Kibaid Jemaat Selili Samarinda. Jika tahun sebelumnya, perayaan Natal hanya bisa menampung setengah dari jemaat.

“Jemaat kita sekitar 150 jiwa. Jadi hanya bisa setengahnya. Selain itu, kapasitas gereja kita kecil, di dalam ruangan sekitar 40-an saja. Jadi maksimalkan di halaman luar juga. Nah sisanya ikut di streaming atau live,” bebernya.

Nah, tahun ini dengan kondisi Covid-19 yang tidak seperti tahun sebelumnya, dijelaskan Ester, nantinya ibadah akan dilaksanakan sekali dengan mempertimbangkan kapasitas dan penjagaan jarak.

“Memang paling banyak itu bisa menampung di halaman, oleh sebab itu kita juga masih melihat lagi kondisi. Apalagi sekarang masih musim hujan, jadi masih menyesuaikan nantinya seperti apa,” lanjut dia.

Pertimbangan untuk mengadakan ibadah Natal dengan sekali kegiatan juga disebutkannya sesuai imbauan atau surat edaran terkait pelaksanaan Natal pemerintah yang dia terima.

Mengenai tradisi Natal, disebutkan, memang berbeda dibanding biasanya. Tahun lalu silaturahmi dan suasana kekeluargaan diakuinya memang sedikit berbeda. “Tetap ada, tentu dengan protokol kesehatan. Bukan yang sampai benar-benar ramai orang ya, selain itu juga saya kan pelayanan ya. Keliling juga,” bebernya.

Meski begitu, diakui Ester pemaknaan dan khidmat ibadah tetap tak berkurang meski dua kali dilaksanakan dengan kondisi pandemi. Sudah mulai terbiasa dan menyesuaikan, termasuk bagaimana pembiasaan protokol kesehatan yang dipatuhi bersama. (pro)