SAMARINDAPerbaikan jalan poros Samarinda-Bontang ditargetkan rampung 100 persen pada 2023. Pada saat bersamaan, opsi jalan lain menuju Bontang dari Samarinda, atau sebaliknya, juga tengah dipersiapkan. Namun, prosesnya membutuhkan waktu. Karena itu, Pemprov Kaltim menyiapkan opsi lain. Akses alternatif dipersiapkan dari Batu Besaung, Samarinda Utara, hingga jalan nasional di kawasan Muara Badak, Kutai Kartanegara.

"Itu kami siapkan secara paralel. Jadi kalau lahan bisa dibebaskan, kami kerjakan. Pelan-pelan," terang Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda (17/12). Dia menjelaskan, opsi jalan ini juga bakal menjadi bagian dari ring road Samarinda. Dan menjadi jalan alternatif menuju Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto.

Selama ini, untuk ke bandara yang terletak di Kelurahan Sungai Siring, Samarinda Utara, jalan satu-satunya dari Samarinda adalah Jalan DI Panjaitan, Tanah Merah, lalu Sungai Siring. Terkait perbaikan jalan poros Samarinda-Bontang, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah II Kaltim, Teuku Surya Dharma menjelaskan, peningkatan kapasitas dan perbaikan jalan akan dilakukan secara permanen.

Pemeliharaan juga dilakukan secara berkelanjutan. BBPJN, sambung dia, tengah mengerjakan perbaikan dengan kontrak Preservasi Jalan Sp 3 SamberaSp 3 SamberaSantan sebesar Rp 227.081.823.000 selama tiga tahun anggaran atau melalui skema multiyears contract (MYC).

"Pelaksanaan perbaikan jalan mulai dilakukan pembenahan aliran air. Yaitu pembuatan shortcut untuk mengalirkan air dari tepi jalan ke Sungai Bawang yang merupakan anak sungai Karang Mumus. Dilanjutkan pembuatan saluran permanen dan cross drain (gorong-gorong) di sisi jalan. Selanjutnya baru tahapan pembenahan atau perbaikan badan jalan, artinya di selesaikan masalah airnya terlebih dahulu baru dilakukan perbaikan jalan," jelas Teuku Surya.

Dia melanjutkan, progres saat ini sudah selesai pembuatan shortcut dan galian saluran tanah untuk mengalirkan air ke Sungai Bawang. Sehingga aliran air sudah lancar. Kemudian dilanjutkan pembuatan gorong-gorong dan saluran permanen. Diakuinya, pembukaan lahan di daerah Tanah Datar menimbulkan dampak besar terhadap kualitas lingkungan, khususnya pada kualitas air terhadap padatan. Aktivitas pembukaan lahan dilakukan masyarakat dan pengembang perumahan, termasuk pertambangan.

Mengakibatkan semakin banyak pengupasan lahan yang dapat menyebabkan perubahan arus air atau air limpasan serta menurunkan kualitas baku mutu air. Hal ini tidak dapat dibiarkan terus karena akan berdampak terhadap perbaikan jalan yang sudah dilakukan.

Diwartakan sebelumnya, di atas kertas, poros Samarinda-Bontang dalam kondisi baik. Namun, fakta di lapangan tak seindah” itu. Cukup mudah menemukan jalan rusak atau berlubang. Hauling batu bara diduga kuat berkontribusi besar terhadap kerusakan akses berstatus milik negara tersebut. Padahal, ada instrumen hukum untuk menjerat pelakunya. Yakni, Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Jalan Umum dan Jalan Khusus untuk Kegiatan Pengangkutan Batu Bara dan Kelapa Sawit. Sanksinya pun sudah jelas. Pidana kurungan paling lama 6 bulan. Atau pidana denda paling banyak Rp 50 juta. Sayangnya, implementasi perda tersebut ibarat jauh panggang dari api.

TOL SAMARINDA-BONTANG

Di sisi lain, rencana tol Samarinda-Bontang juga masih menunggu keputusan akhir pemerintah pusat. Sejak Oktober lalu, ucap Fitra, penyusunan feasibility study (FS) atau studi kelayakan untuk tol Samarinda-Bontang sudah rampung digarap. "Tol Samarinda Bontang masih tunggu investor. Ini ranahnya BPJT (Badan Pengelola Jalan Tol), kita menunggu arahan," ungkapnya. (nyc/riz/k8)