BARCELONA – Musim perdana Xavi Hernandez menangani FC Barcelona harus dijalani dengan merasakan Liga Europa. Saat Xavi masih jadi pemain Barca, dia juga pernah ”turun kasta” berlaga di Piala UEFA 2003–2004. Sialnya, debut tidak menyenangkan Barca di Liga Europa disambut dengan undian fase playoff knockout (bukan babak 32 besar karena juara fase grup lolos langsung ke 16 besar) yang tricky.

Barca diundi berhadapan dengan SSC Napoli. Second leg yang dimainkan di kandang Napoli, Stadio Diego Armando Maradona (25/2), bakal memiliki arti penting. Bukan hanya karena mendiang Maradona memiliki ikatan emosional bagi Napoli maupun Barca. Melainkan Xavi pun turut merasakan pengaruh legenda Argentina tersebut.

Ya, Maradona-lah yang memintanya untuk menunda gantung sepatu pada 2018.

”Kepada sang profesor sepak bola (Xavi, Red), aku meminta supaya tidak pensiun dulu. Sebab, saat dia memegang bola, dunia tersenyum,” kata Maradona kala itu seperti dikutip Ole.

Menghadapi Napoli di awal Liga Europa, Xavi tidak mengharapkan jalan yang terjal bakal menghadang Sergio Busquets dkk. ”Target tim kami adalah selalu memenangi setiap pertandingan, termasuk di sana (Liga Europa, Red). Itulah realitas yang harus kami terima saat ini,” beber Xavi di laman resmi UEFA.

Sejarah mencatat, di antara klub pemenang Liga Champions, hanya ada dua klub yang bisa juara di Liga Europa dalam musim pertamanya. Yaitu Chelsea (2013) dan Manchester United (2017). Dua musim lalu, Inter Milan nyaris menjalani debutnya dalam Liga Europa sebagai juara sebelum dikalahkan oleh Sevilla di final.

Terpisah, allenatore Napoli Luciano Spalletti sudah memprediksi timnya bakal menghadapi klub besar dalam playoff knockout Liga Europa. ”Bermain melawan klub besar berarti sebuah tantangan besar dan saya pikir tim ini telah menghadapi sejumlah tantangan besar dan berhasil melaluinya,’’ tutur Spalletti. (ren/dns)