SAMARINDA - Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda mengawal tiga di antara lima proyek yang diusulkan untuk program kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Saat ini, bersama konsultan OPD tersebut tengah melengkapi beberapa data sebelum membawa hasil studi pendahuluan untuk dikonsultasikan ke Kantor Bersama KPBU di Jakarta, minggu kedua Desember.

Kabid Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishub Samarinda Vincentius Hari Prabowo menerangkan rencana proyek yang ditangani, yakni pembangunan pelabuhan curah (multipurpose), lampu penerangan jalan umum (LPJU) tersebar, dan skytrain yang menghubungkan Bandara APT Pranoto menuju kota.

Sebab, saat ini pihaknya melengkapi beberapa kekurangan, termasuk masukan dari OPD maupun Wali Kota Samarinda Andi Harun beserta jajaran. “Studi pendahuluan akan dikoreksi bersama di Kantor Bersama KPBU dalam rangka melihat potensi dan sumber daya yang bisa dibiayai dengan skema pembiayaan KPBU,” ucapnya, Jumat (10/12).

Terkait gambaran awal proyek tersebut, Hari memerincikan, pertama pada proyek pembangunan pelabuhan curah, bakal ditingkatkan menjadi pelabuhan multipurpose yang mengakomodasi pelayanan berbagai komoditas. Mulai semen, batu bara, hingga barang atau produk berbentuk cair, tetapi non peti kemas.

“Ada lima titik lokasi yang dikaji konsultan, nanti akan dipilih secara subjektif melihat dari sisi kemudahan dan keuntungan,” ucapnya.

Sementara untuk LPJU tersebar, pihaknya berkolaborasi dengan Dinas Permukiman (Disperkim) Samarinda, mengingat ada dua segmen yang ditangani, jalan utama dan jalan di kawasan permukiman. Data sementara keperluan untuk menerangi jalan-jalan di Samarinda mencapai 25 ribu titik.

Begitu juga dengan beban biaya saat ini per bulan sudah menghabiskan Rp 1,5 miliar. “Ini juga biayanya tidak sedikit, makanya hingga kini masih banyak area blank spot, terutama di daerah pinggir kota. Kalau pakai APBD saja tentu waktunya cukup lama,” singkatnya.

sementara untuk program pembangunan skytrain, bahwa tujuan awalnya yang digagas wali kota Samarinda yakni menjawab tantangan menyediakan jalur alternatif menuju APT Pranoto. Kemudian pembahasan berkembang bagaimana sasarannya tidak hanya untuk penumpang bandara, tetapi masyarakat sekitar bandara juga bisa memanfaatkan.

“Tidak hanya skytrain, tetapi badan jalan yang bisa dilintasi kendaraan biasa bagi warga sekitar bandara,” ucapnya.

Bahwa dalam pelaksanaan proyek ini mengusung konsep sistem transportasi (sustainable transportation), sehingga tidak hanya membangun satu arah. Skytrain yang dibangun bisa dikembangkan untuk menjangkau jalur menuju Kota Balikpapan serta ibu kota negara (IKN).

“Ini masih pra-studi, sehingga masih ada kajian-kajian lain yang perlu dilengkapi,” ujarnya.

Sedangkan mengenai proyek mana yang akan dimulai dulu, Hari mengaku tergantung hasil review terhadap potensi dari berbagai sisi. Antara lain bagaimana mengembalikan dana ke swasta, sehingga aset bisa kembali ke pemerintah.

“Beberapa waktu lalu juga sudah ada konsultan transportasi IKN yang melakukan kajian bahwa teknologi transportasi di Samarinda dan Balikpapan memiliki level yang sama, dan saling terkoneksi,” singkatnya.

Dia menambahkan kajian untuk realisasi proyek ini juga masih panjang, studi pendahuluan memakan waktu 3-6 bulan, kemudian perlu waktu 4-6 bulan untuk feasibility study (FS). Pada tahap FS, juga pembahasan lebih dalam meliputi lingkungan, ekonomi, finansial daerah, sosial, hingga lalu lintas.

“Mana kala hasil konsultasi dengan Kantor Bersama KPBU mendapat lampu hijau untuk bisa dilelang, akan segera ditindaklanjuti. Dalam rangka mengimbangi akselerasi pembangunan IKN,” tutupnya.

Sebelumnya, tahun ini lima proyek pembangunan infrastruktur tengah disiapkan, yakni pembangunan pelabuhan curah, lampu penerangan jalan umum (LPJU), pembangunan skytrain menghubungkan Bandara APT Pranoto dengan kota, pembangunan rumah sakit kelas internasional, serta sarana-prasarana pariwisata Sungai Mahakam. (dns/kri/k16)