Pasangan dengan rambut memutih itu, memiliki tangan yang telah jadi bagian dari perkembangan motif kriookng. Sejak 70-an, keduanya mengembangkan pola yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

NOFIYATUL CHALIMAH, Kutai Barat

Ada tujuh motif kriookng asal Kampung Linggang Melapeh, Kecamatan Linggang Bigung, Kutai Barat, yang resmi mendapatkan pengakuan hak cipta karya seni dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Dirjen Kekayaan Intelektual pada Februari 2020.

Sosok FE Lebiq (76) dan Sisilia Ramla (75), menjadi kunci pengembangan motif ini. Mereka asli Linggang Melapeh. FE Lebiq mengisahkan, mereka sudah mengenal motif kriookng sejak era 70-an. Saat itu, mereka melihat motif dari gambaran di atas kertas.

Mereka bercerita, sosok yang pertama mengenalkan motif ini adalah lelaki yang dipanggil Upang. Saat itu, keluarga mereka membeli motif kriookng yang digambar di atas kertas. Kala itu, motif baru hanya ada empat buah.

Namun, kakak dari Sisilia Ramla yang awalnya mengurus motif ini, meninggal dunia. Sehingga, Sisilia dan suaminya yang kemudian mengambil alih pengembangannya. "Sayang kalau ditinggalkan. Motif dasar itu yang dikembangkan," kata Sisilia.

Apalagi, Sisilia juga menyukai dunia busana dan terkadang menjahit. Motif-motif itu, menurutnya, bakal indah jika diterapkan pada busana-busana yang dipakai.

Setelah perjalanan perkembangan bertahun-tahun, ada tujuh motif kriookng yang mereka ciptakan. Mulai motif ketau, belanai (guci), nagaaq (naga), pagar, perisai, kodook (kura-kura), dan cihiiq (tiang).

Motif-motif yang diambil juga tak sekadar meniru bentuk. Tetapi, ada makna filosofis yang diambil. FE Lebiq mencontohkan, motif kodook yang terinspirasi dari kehidupan kura-kura.

"Kura-kura itu jalannya lambat sekali. Tetapi, dia memiliki tekad kuat. Dia semangat dan tak putus asa. Dia tetap berjalan," kata Lebiq.

Inspirasi ini datang tidak serta-merta. Tetapi, datang ketika mereka ke hutan dan bertemu kura-kura. Setelah dipatenkan, motif kriookng diakui pasangan yang menikah sejak 1967 itu, lebih dikenal masyarakat. Pesanan daring yang dipromosikan cucu mereka via media sosial pun berdatangan. Mereka pun mengerjakan motif-motif ini di sela kegiatan berladang.

Selain itu, mereka mengikuti pameran. Biasanya, kain-kain yang telah dibuat motif kriookng, mereka pamerkan. Nanti, kain itu bisa dipakai pembeli untuk membuat busana. Pasangan ini juga dibantu anak dan cucu-cucunya. Sehingga, diharap bisa terus dilestarikan.

Kepala Dinas Pariwisata Kutai Barat Yuyun Diah Setyorini mengatakan, pihaknya juga terus mempromosikan motif kriookng ke kancah nasional dan internasional. Dia pun bersyukur karena sambutan masyarakat juga cukup bagus.

"Tujuh motif kriookng ini kita sempat promosi di Hotel Indonesia Jakarta. Di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) juga. Juga di Hong Kong Week Festival," kata Yuyun.

Pihaknya ingin mengenalkan bahwa motif yang sudah dipatenkan itu aslinya dari Linggang Melapeh. Jika mau tahu secara detail dan melihat lebih banyak, silakan datang ke kampung ini. Apalagi, jika datang ke kampung ini, bisa menikmati keindahan alam, budaya masyarakat setempat, dan juga aneka pangan lokal.

Yuyun pun mengatakan, Kutai Barat pada umumnya memiliki kearifan lokal yang kaya dan beragam. Tiap tahun, pihaknya bakal mendorong ada yang dipatenkan. "Kain sarut 10 motif dari Kecamatan Damai, mau dipatenkan tahun ini," pungkas dia. (dwi/k15)