Awalnya dimaksudkan mengoptimalkan pekarangan sekaligus membantu menekan angka inflasi, kemandirian ekonomi justru diwujudkan para ibu di RT 41 Kelurahan Sumber Rejo.

 

SEMUA diawali tiga tahun silam, saat beberapa ibu di RT 41 mulai mengembangkan urban farming. Ketua RT 41 Ita Nur Ariani mengisyaratkan, kegiatan ini mulanya seperti gerakan berhemat.

“Awalnya kami dipilih Bank Indonesia mengembangkan budi daya tanaman. Program yang diberikan ditunjukkan kepada ibu-ibu. Jadi, kami diminta agar bisa mandiri. Tujuan program agar menekan angka inflasi. Jadi, kebutuhan sayur-mayur kami tidak perlu membeli. Kami diajari bagaimana cara menanam. Komoditasnya mulai dari cabai hingga seledri,” tuturnya, Rabu (8/12).

Dalam perjalanan, seledri yang mereka panen sudah bisa dioptimalkan. Saat ini, warga sudah bisa melakukan hilirisasi produk.

“Kami sudah menjual produk minuman seledri. Racikan kami menjadi rasa yang berbeda. Kemudian kami juga menghasilkan es krim seledri,” katanya.

Bahkan pesanan bisa mencapai 100 pack saat musim panen. Dana yang didapat, tentu akan dibagi-bagi ke warga yang membuat produknya.

“Jadi, mulai dari penanam dan produk hilirnya kami semua lakukan sebagai tim. Total ada 10 orang yang aktif. Namun, beberapa warga lainnya juga ada. Mereka biasanya membuat produk hilirnya,” katanya.

Menurutnya, upaya ini diharapkan bisa membantu masyarakat setempat mendapat penghasilan.

“Tiap warga kami bisa bercocok tanam dan berjualan sekarang. Metode tanam yang diajarkan kepada kami juga tidak susah. Menggunakan teknik hidroponik. Jadi, tidak perlu lahan yang besar,” tuturnya.

Ia membeberkan, sejatinya tidak mudah membina mereka. Bahkan dengan waktu pelatihan yang minim, hanya ia dan suaminya yang paham sampai tamat.

“Jadi, ya saya yang mengajari. Belum lagi, banyak masyarakat ini maunya cepat menghasilkan uang. Tentu perlu kesabaran. Mulai dari bercocok tanam hingga menjualnya,” ujarnya.

Ia berharap daerahnya bisa menjadi percontohan bagi daerah lainnya. (aji/ms/k15)