SAMARINDA - Pengetatan mobilitas dalam rangka pengendalian gelombang kedua kasus Covid-19 pada triwulan III lalu berdampak pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan. Tercatat sektor ini terkontraksi sebesar 1,16 persen (year on year/yoy) setelah pada triwulan sebelumnya mencatat pertumbuhan 17,04 persen (yoy).

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Bidang Logistik Sevana Podung mengatakan, setelah era new normal pada pertengahan 2020, kegiatan logistik memang terus membaik, meskipun belum kembali seperti semula. Tahun lalu, kontraksi disebabkan oleh pembatasan lalu lintas barang, maupun penumpang di masa-masa awal merebaknya pandemi.

“Namun terus membaik sampai 2021, bisnis ini terus tumbuh. Pada triwulan ketiga seiring ditetapkannya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat, atau Level 4 secara nasional, termasuk Kaltim, kegiatan logistik kembali tertahan,” ungkapnya, Rabu (8/12).

Menurutnya, kontraksi kinerja pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan tersebut, disebabkan oleh PPKM Level 4 secara nasional, termasuk Kaltim, sejalan dengan pengendalian gelombang kedua kasus Covid-19.

Kontraksi kinerja lapangan usaha transportasi, dan pergudangan juga tecermin dari jumlah penumpang pesawat yang terkontraksi 29,5 persen (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh 338,7 persen (yoy). Kontraksi kinerja lapangan usaha transportasi dan pergudangan, juga tecermin dari perlambatan aktivitas bongkar muat barang di Kaltim, selama triwulan III 2021.

Aktivitas bongkar di pelabuhan utama di Kaltim tercatat tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, dari 3,97 persen (yoy) menjadi 1,59 persen (yoy). Sementara itu, aktivitas bongkar muat di bandara juga tercatat tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, dari 36,65 persen (yoy) menjadi 2,07 persen (yoy).

“Selama PPKM memang bisnis logistik khususnya untuk pangan memang tidak dibatasi. Namun, tetap terjadi penurunan drastis. Sebab fasilitas yang terbatas, sehingga volume pengiriman juga menurun. Saat PPKM permintaan melemah, juga diimbangi dengan supply yang menurun. Sehingga berimbas pada penurunan bisnis logistik,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)