SAMARINDA-Kinerja lapangan usaha konstruksi Kaltim triwulan III 2021 tumbuh membaik. Hal itu sejalan dengan kembali meningkatnya intensitas konstruksi, terutama proyek-proyek pemerintah. Secara tahunan kinerja lapangan usaha konstruksi tercatat tumbuh sebesar 5,46 persen (year on year/yoy), setelah pada triwulan sebelumnya terkontraksi sebesar 0,83 persen (yoy).

Ketua Dewan Pengurus Daerah Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional Indonesia (DPD Gapeksindo) Kaltim Slamet Suhariadi mengatakan, tahun ini perbaikan sektor konstruksi terjadi pada triwulan III. Sebab pada semester II lelang baru dilakukan dan sebagian sudah kontrak. Sehingga peredaran uang di sektor konstruksi sejak triwulan III baru mulai membaik. Sebab triwulan I dan II proyek dari pemerintah daerah sama sekali tidak ada, kecuali proyek dari APBN.

Perbaikan kinerja lapangan usaha konstruksi, didorong oleh terus berlanjutnya pembangunan berbagai proyek strategis dari APBN, seperti Refinery Development Master Project (RDMP) RU V Balikpapan, Bendungan Sepaku-Semoi, berbagai preservasi, dan pembangunan infrastruktur jalan.

Untuk itu, saran dia, tahun depan seharusnya pemerintah daerah bisa melakukan pelelangan dini untuk proyek-proyek konstruksi. Akibat terlambatnya lelang tahun ini, akhirnya berpeluang banyak pekerjaan yang tidak selesai pada 2021. Di mana akan muncul sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA). Sehingga anggaran untuk pembangunan tidak bisa maksimal.

“Menurut saya banyaknya pekerjaan yang tidak selesai karena lelangnya terlambat. Sehingga saran saya awal Januari lelang sudah bisa dilakukan. APBN bisa melakukan itu, masa APBD tidak bisa,” tuturnya, Kamis (9/12).

Pembangunan berbagai proyek strategis tersebut juga tecermin dari realisasi belanja modal pemerintah pusat (APBN) di Kaltim yang mengalami percepatan. Belanja modal pemerintah pusat (APBN) di Kaltim pada triwulan III 2021 tercatat Rp 765,1 miliar atau tumbuh 53,21 persen (yoy). Jauh meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 6,76 persen (yoy).

Berbeda dengan kinerja sektoralnya yang tumbuh meningkat, penyaluran kredit di sektor konstruksi mengalami kontraksi di tengah risiko kredit yang meningkat. Kredit konstruksi tercatat terkontraksi 17,29 persen (yoy) pada triwulan III 2021, setelah triwulan sebelumnya tumbuh sebesar 9,61 persen (yoy). Akibat kontraksi tersebut, untuk pertama kalinya sejak triwulan IV 2017 pertumbuhan penyaluran kredit di lapangan usaha konstruksi kembali negatif.

Kontraksi juga diiringi oleh risiko kredit yang meningkat. Rasio non-performing loan (NPL) lapangan usaha konstruksi tercatat mengalami kenaikan dari 7,90 persen, pada triwulan sebelumnya, menjadi 7,98 persen. Rasio NPL pada lapangan usaha konstruksi tersebut menempati peringkat ketiga tertinggi, setelah rasio NPL pada lapangan usaha industri pengolahan dan jasa kesehatan dan sosial.

“Biasanya proyek-proyek yang berjalan, dan anggarannya belum cair akan difasilitasi perbankan untuk kredit modal kerja. Namun karena tidak ada proyek, maka fasilitas perbankan juga tidak digunakan. Sedangkan untuk NPL yang tinggi tentunya merupakan sisa-sisa proyek kemarin yang dibiayai oleh perbankan pada periode sebelumnya. Namun, dananya terhenti saat Covid-19. Sehingga pembayarannya juga terkendala atau tertunda,” pungkasnya. (ctr/rom/k15)