PPKM Level 3 memang ditiadakan. Potensi penyebaran Covid-19 pun menjadi ancaman. Meski begitu, otoritas bandara sebagai pintu gerbang ke luar dan masuk orang tetap diperketat.

 

BALIKPAPAN-Selama pandemi Covid-19 tren penumpang di Bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan mengalami penurunan. Momen Natal dan tahun baru (Nataru) jadi ajang untuk meningkatkan penerbangan. Terlebih pemerintah membatalkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 selama Nataru.

Koordinator Wilayah Kerja Bandara SAMS Sepinggan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Balikpapan dr Taufik Kukuh Widodo mengatakan, sejak PPKM turun level memang terjadi lonjakan penumpang. Terutama perubahan syarat penerbangan dari wajib tes polymerase chain reaction (PCR) menjadi hanya tes antigen.

Hal itu memengaruhi tren penumpang di Bandara Sepinggan yang sebelumnya di bawah 5 ribu sekarang sudah 10 ribu penumpang. Apalagi jelang Nataru mendatang, dia memprediksi jumlahnya akan meningkat.

“Penumpang saat ini dan ke depan akan meningkat. Sekarang per hari pelaku perjalanan pulang pergi mencapai di atas 10 ribu. Saat Nataru, saya belum bisa memastikan angka penumpang berapa. Apalagi pembatasan ‘kan tetap diberlakukan. Seperti kewajiban vaksinasi, pemeriksaan PCR dan antigen sebagai antisipasi,” ujarnya, Rabu (8/12).

Pelaku perjalanan menurutnya tetap berisiko, karena tidak bisa langsung terdeteksi. Apalagi dengan varian terbaru Covid-19, Omicron itu menimbulkan kekhawatiran akan gelombang ketiga.

Dari itu, pemerintah bersama Angkasa Pura dan pihak maskapai terkait terus berupaya melakukan sosialisasi ketika masyarakat bepergian, maka wajib sudah divaksin. Bila memiliki comorbid dipastikan lebih dulu sebab aturan satgas di bandara sangat ketat.

Bagi yang tidak memiliki comorbid harus menunjukkan tes antigen/PCR. Sesuai aturan, jika sudah mendapatkan dua kali vaksin bisa menyertakan antigen. Bila baru sekali vaksin, maka wajib dengan tes PCR dengan hasil negatif.

“Yang jadi kekhawatiran, bila penumpang bepergian dari pelabuhan dan bandara non-internasional atau domestik. Beberapa kasus didapatkan demikian. Jangan sampai penurunan PPKM akan berdampak buruk. Karena ada saja pelaku perjalanan nekat mencari berbagai cara agar bisa pergi tanpa vaksinasi,” jelasnya.

Dua tahun terakhir, di Bandara SAMS Sepinggan meski ada, namun tidak terlalu banyak penumpang yang terindikasi Covid-19. Bandara meski sifat perjalanannya cepat, tapi prosedur yang diterapkan tetaplah ketat.

Tidak hanya bandara sebagai pintu gerbang, diperlukan perhatian besar terhadap pelabuhan karena bersifat lebih terbuka. Pelabuhan di Balikpapan bersifat internasional sehingga keluar masuk kapal tidak bisa dicegah. Ada kekhawatiran terjadinya penyebaran pada anak buah kapal (ABK), walau tidak turun tetapi saat dilakukan pengecekan kemungkinan terjadi interaksi/kontak.

Sehingga bagi pelaku perjalanan luar termasuk ABK harus melaksanakan PCR pada hari pertama kedatangan. PCR kembali diulang pada hari ke-13. Setelah menyelesaikan karantina 14 hari dan dinyatakan negatif, barulah diperbolehkan melakukan aktivitas seperti biasa. “Langkah cegah tangkal, setiap perusahaan kapal juga harus menyiapkan ruang isolasi bagi ABK bila ada yang terindikasi,” saran Kukuh.

Bicara soal persiapan dari tim satgas sudah lebih memumpuni. Namun, kata Kukuh, soal ketersediaan sumber daya manusia (SDM) satgas di bandara kondisinya sama dengan pihak rumah sakit, masih kekurangan.

Kukuh mengaku tidak ada instansi yang paripurna dalam pengendalian Covid-19, mengingat SDM masih terbatas. Sehingga mengandalkan jejaring dan kerja sama antar-pihak termasuk TNI, Polri, dan otoritas bandara tanpa melupakan protokol kesehatan.

Pihaknya juga telah menyiapkan satu ruangan yang digunakan sebagai isolasi sementara. Itu digunakan saat penumpang turun dan bersangkutan terindikasi Covid-19. Sembari berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk dipindah ke tempat isolasi yang disediakan pemerintah dilanjutkan sistem screening dan tracing, jika hasilnya positif.

Pemerintah tidak bisa terus-menerus mencegah orang bepergian. Jenuh dan rindu bertemu keluarga sering menjadi alasan. Bukan hanya dewasa, banyak orangtua yang mengajak serta anak-anaknya bepergian. Padahal, tindakan tersebut bisa berakibat fatal bagi anak apalagi belum menerima vaksin.

Dikatakan, walau anak tetap bisa bepergian dengan menunjukkan tes PCR negatif, namun alasannya harus tepat. Karena pengendalian Covid-19 perlu effort bersama, termasuk kesadaran dari orangtua.

“Kami inginnya orangtua sadar, Covid-19 bukan permasalahan sepele. Risiko jauh lebih besar. Apalagi jelang Nataru jumlah masyarakat yang ingin bepergian tinggi, maka kembali lagi dari kesadaran masing-masing orangtua. Bila memang tidak urgent, lebih baik tidak bepergian apalagi mengajak anak,” harap dia.

Sementara terkait pencegahan penyebaran Covid 19 setelah Nataru, Polri memastikan tetap menjalankan Operasi Lilin. Kendati pemerintah telah membatalkan kebijakan PPKM Level 3 untuk Nataru. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono menjelaskan, Operasi Lilin tetap akan dijalankan. Namun diperlukan beberapa penyesuaian dalam pelaksanaannya. “Setelah PPKM Level 3 dibatalkan,” urainya.

Salah satu penyesuaian itu adalah Polri akan menjalankan Operasi Lilin berdasarkan kebijakan setiap daerah. Karena itu, sangat diperlukan koordinasi dengan setiap Satgas Covid-19 daerah masing-masing. “Itu yang menjadi dasar,” ujarnya.

Menurutnya, penilaian dari setiap Satgas Covid-19 daerah akan menjadi panduan bagi Polri. Apa yang diperlukan akan dijalankan sesuai kondisi dan situasi. “Assessment daerah ini akan digunakan,” terangnya. (lil/rom/k15)