BALIKPAPAN - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan mencatat transaksi nontunai meningkat cukup signifikan di wilayah kerjanya. Hal itu terlihat dari merchant yang memakai QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sudah mencapai 84 ribu per Desember 2021. Angka ini sudah 121 persen dari target mereka tahun ini di level 69 ribu. Sedangkan secara nasional di angka 13 juta merchant.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Darmadi Sudibyo mengatakan, sampai saat ini pihaknya gencar menyosialisasikan QRIS ke masyarakat. "Di tengah pandemi penggunaan transaksi nontunai khususnya QRIS cukup tinggi. Dan ini salah satu upaya menghindari penyebaran Covid-19," katanya saat membuka acara Ngobrol Bareng bersama media, Selasa (7/12).

Di sisi lain, penggunaan QRIS juga terbebas dari uang palsu atau pun kerusakan pada uang. Karena uang tidak harus ada di dalam dompet. Hanya menggunakan code yang ada, masyarakat sudah bisa bertransaksi.

Menurutnya, perlu upaya ekstra untuk menggenjot digitalisasi termasuk misalnya masalah literasi yang tentunya harus didukung infrastruktur terpasang. Agar ekosistemnya terbentuk juga harus ada keinginan dari masyarakat untuk menggunakannya.

“Perlahan tapi pasti. Pelan-pelan QRIS ini semakin dikenal masyarakat. Bahkan, sudah bisa kita gunakan di negara Thailand, Malaysia, dan Singapura. Target kami, sistem pembayaran digital ini bisa digunakan se-ASEAN,” katanya.

Untuk angka transaksi di Balikpapan, pihaknya masih belum tahu detailnya. “Sistemnya masih terpusat. Ke depan mungkin akan dibagi per daerah saja. Jadi, kita bisa tahu transaksi nontunai melalui QRIS di daerah ini berapa,” bebernya.

Ia tidak menampik data lokal perlu. Jadi bisa tahu, tingkat literasi keuangan digital di daerah bagaimana. Sejauh ini, implementasi QRIS sudah mencakup UMKM, sistem pembayaran pemerintah, pajak, dan infak masjid. (aji/ndu/k15)