Bronson Manik

ASN BPS Provinsi Kalimantan Timur

 

Seiring dengan ditetapkan wilayah Provinsi Kalimantan Timur menjadi ibu kota negara (IKN) baru oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu yang lalu, berbagai kegiatan dan aktivitas dalam mempersiapkan dan menyongsong ibu kota tersebut terus digenjot dan dikonsolidasikan dengan berbagai pihak.

Bagaimana dengan persiapan infrastruktur dan atau pekerjaan konstruksinya? Sampai saat ini pekerjaan konstruksi secara implisit memang belum menunjukkan peningkatan yang signifikan, meski ditengarai sudah ada aktivitas pekerjaan konstruksi seperti persiapan/pematangan lahan dan atau jalan.

Pekerjaan konstruksi memang akan menjadi pekerjaan yang mendominasi dalam menyongsong ibu kota baru tersebut, baik pekerjaan konstruksi bangunan, sipil atau khusus. Kondisi ini secara langsung akan mampu mendongkrak kontribusi sektor konstruksi dalam tatanan perekonomian Kaltim.

 Gambaran awal, sebelum ditetapkannya Kaltim sebagai tempat IKN baru atau sebagai contoh pada 2019 kontribusi sektor konstruksi dalam pembentukan ekonomi Kaltim tercatat 8,97 persen dan di 2020 sektor tersebut telah memberi share 9,53 persen. Tren kenaikan (pergeseran) kontribusi tersebut akan terus berjalan seiring perkembangan dan atau pekerjaan konstruksi di wilayah IKN tersebut.

Salah satu tantangan dan menjadi perhatian para pengambil kebijakan, salah satunya memberdayakan pelaku usaha khususnya jasa konstruksi di Kaltim untuk ikut ambil peran  dalam pekerjaan besar konstruksi IKN baru tersebut. Di samping perlunya persiapan yang lebih matang dari usaha jasa konstruksi di Kaltim guna bersaing dengan meningkatkan kapabilitas dan kualitasnya, baik sumber daya manusia (SDM) maupun output yang dihasilkan.

Sebagai gambaran, jasa konstruksi di Kaltim pada 2021 tercatat 6.780 usaha/perusahaan. Jika dikelompokkan perusahaan konstruksi menurut badan usaha di Kaltim terdapat 1.773 perusahaan PT, 4.969 perusahaan CV dan sisanya firma dan atau badan usaha lainnya. Sementara jika dikategorikan menurut skala usaha (kualifikasi), memang masih didominasi skala usaha kecil (77,20%), diikuti skala usaha menengah (18,24%) dan sebaliknya hanya 0,63% skala usaha besar, sedangkan sisanya masuk kategori non kualifikasi.

Dengan jumlah jasa konstruksi di Kaltim, seyogianya mampu memberi sumbangsih yang besar dalam pembangunan ibu kota negara baru tersebut. Meski ditengarai banyak tantangan dan hambatan yang menjadi persyaratan untuk ikut serta dalam pekerjaan konstruksi pada wilayah IKN tersebut. Namun, peluang dan kompetensi yang dimiliki usaha/perusahaan konstruksi di Kaltim dapat menjadi modal utama untuk berkontribusi.

Memang tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan untuk ikut serta dalam pekerjaan konstruksi yang dikelola langsung oleh pemerintah pusat (nasional), yang notabene membutuhkan syarat dan kualifikasi pekerja konstruksi yang sangat ketat. Waktu yang tersedia dan seiring perkembangan informasi teknologi, bukanlah suatu hambatan untuk tetap ikut bersaing dan bersinergi dengan pihak lain untuk pekerjaan konstruksi yang lebih baik.

 Dibutuhkan keseriusan dan komitmen para pelaku usaha (perusaaan) konstruksi di Kaltim untuk mengambil peran dalam pembangunan IKN tersebut. Salah satunya dengan meningkatkan SDM dan mengedepankan output konstruksi yang berkualitas. Koordinasi dan kolaborasi antar pihak juga menjadi kunci keberhasilan usaha/perusahaan konstruksi Kaltim khususnya dengan perusahaan konstruksi skala besar (nasional).

Jasa konstruksi di Kaltim harus mampu menjadi pionir di wilayahnya sendiri, dengan berkompetisi dengan baik dan mengedepankan hasil yang lebih berkualitas. Slogan “yang penting ikutan saja”, hendaknya dibuang dari benak pikiran para pelaku usaha jasa konstruksi di Kaltim, tapi bagaimana berperan aktif dan memberi yang terbaik (kualitas konstruksi) dengan keberadaan IKN di Kaltim.

Semoga jasa konstruksi Kaltim terus berkiprah dan berkembang lebih maju, serta mampu bersinergi dengan pihak manapun, baik dalam memberi informasi/data konstruksi untuk mengambil suatu kebijakan maupun dalam peningkatan output konstruksinya. (luc/k16)