MILAN – ”DNA Liga Champions” adalah klaim populer AC Milan untuk menunjukkan bahwa kompetisi antarklub Eropa itu punya sejarah panjang bagi mereka. Apalagi, musim ini menandai kembalinya Rossoneri ke Liga Champions setelah tujuh tahun absen.

Hanya, mengulang kejayaan AC Milan sebagai klub dengan 7 gelar Liga Champions tidak semudah membalik telapak tangan. Tim asuhan Stefano Pioli itu malah mengakhiri Liga Champions musim ini sebagai juru kunci di grup B.

Kesempatan menjaga eksistensi dalam matchday terakhir di kandang melawan Liverpool FC  (8/12) tidak berjalan sesuai ekspektasi. Meski LFC tidak memainkan starting XI terbaik, AC Milan keok 1-2. Pendamping LFC ke babak 16 besar akhirnya jadi milik Atletico Madrid yang menang 3-1 di kandang FC Porto.

Olok-olok untuk AC Milan sebagai DNA Liga Champions, tapi finis sebagai juru kunci di fase grup pun menghiasi jagat media sosial. ”Kami tahu grup yang kami tempati sangat sulit dan kompetitif. Kami memulainya dengan optimistis. Tapi, setelah berjalannya waktu, gap (dengan tim lain) tidak dekat,” beber Pioli kepada Milan TV.

Di sisi lain, Inter Milan, rival sekota AC Milan yang kerap disindir sebagai badut Eropa, mengakhiri fase grup dengan lolos ke fase knockout. Itu merupakan sukses pertama Nerazzurri setelah tiga musim sebelumnya selalu gagal. Juga sukses pertama selama sedekade.

Inter memiliki kesempatan finis sebagai juara grup. Tapi, kemarin, Samir Handanovic dkk kalah 0-2 di kandang Real Madrid. ”Kami mungkin bisa meraih hasil bagus seandainya tidak ada kartu merah (yang diterima oleh gelandang Nicolo Barella, Red),” tutur allenatore Inter Simone Inzaghi kepada DAZN.

(ren/dns)