SAMARINDA - Sepanjang 2021, harga crude palm oil (CPO) berhasil bertahan di atas USD 1.000 per metrik ton. Tahun depan, tingginya harga tersebut diprediksi masih akan berlanjut, tak lepas dari produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang akan stabil pada 2022. Selain Kaltim dan daerah lain di Indonesia, stabilnya TBS juga terjadi di Malaysia.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar mengatakan, satu per satu permasalahan kelapa sawit teratasi. Kedua negara penghasil kelapa sawit, yaitu Indonesia dan Malaysia sempat mengalami kendala, salah satunya kekurangan tenaga kerja akibat Covid-19. Masalah ini sudah mulai teratasi sehingga, produksi tahun depan diprediksi meningkat dan stabil.

Di Indonesia diprediksi terjadi peningkatan produksi CPO hingga 1 juta ton pada 2022. Begitu juga dengan CPO Malaysia diprediksikan meningkat 1 juta ton. “Produksi kita tahun depan tentunya bisa lebih besar, kegiatan sudah mulai maksimal. Artinya kita bisa mempertahankan peningkatan produksi yang lebih stabil,” jelasnya, Selasa (7/12).

Dia menjelaskan, tahun depan permintaan CPO juga akan meningkat, seiring terjadi peningkatan permintaan terhadap energi. Permintaan terhadap energi naik pada sebanyak 2 juta ton. Penggerak utama pertumbuhan energi tentunya ada biodiesel. Permintaan terhadap minyak nabati untuk makanan juga naik 3 juta ton setiap tahun. Pada saat pandemi, permintaan tersebut turun 2 juta ton.

“Akan tetapi, permintaan mengalami peningkatan 2 juta ton pada saat ini. Sehingga harga terus meningkat seiring permintaan yang semakin banyak,” tuturnya.

Selain CPO, produksi minyak nabati lainnya juga diprediksi meningkat. Pada 2022, produksi minyak nabati dunia naik 25 juta ton dengan mencatatkan rekor sebesar 611 juta ton. Pandemi Covid-19 yang menghantam Tiongkok dan India sejak 2020, sempat mengakibatkan penurunan permintaan minyak nabati. Akan tetapi, permintaan terhadap minyak nabati kembali pulih pada 2021 hingga tahun depan.

Hal ini terjadi karena permintaan terhadap minyak nabati lebih kuat dibanding yang diperkirakan. Sedangkan produksi minyak nabati dalam negeri tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan. Akibatnya harga terus meningkat. “Diprediksikan harga CPO sampai pertengahan tahun pada 2022 bisa bertahan hingga USD 1.000 – 1.250 per ton,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)