BALIKPAPAN – Emas masih menjadi pilihan umum dalam berinvestasi, termasuk dalam kelompok usia muda generasi Y dan generasi Z. Manajer Riset Katadata Insight Center Vivi Zabkie mengatakan, dalam survei yang bekerja sama dengan Zigi.id dan Stockbit, Lebih 60 persen responden mengaku saat ini memiliki emas.

“Kami secara total menyurvei 1.939 responden yang berinvestasi dalam beragam bentuk, baik tradisional maupun modern seperti investasi digital,” kata Vivi dalam diskusi secara virtual, Senin (6/12). Setelah emas, investasi tanah dan usaha menjadi pilihan berikutnya. Sedangkan pada kelompok investasi digital, reksadana dan saham yang paling banyak dipilih.

Menurutnya, pemilihan emas sebagai instrumen investasi, karena umumnya dipersepsikan mudah dijual. Sementara jenis investasi digital karena faktor high return, kepraktisan dan modern. “Pada variabel high risk, high return, praktis dan modern, investasi digital berada di TOP 3. Sementara pada variabel mudah dijual atau dicairkan emas unggul di posisi tertinggi,” jelasnya.

Head of Financial Education Stockbit & Bibit.id Vivi Handoyo Lie mengakui jika investor baru cukup banyak muncul beberapa tahun belakangan ini. Terlihat dari pengguna platform mereka. Pihaknya pun memastikan investor baru atau pemula dapat melakukan investasi dengan tepat dan aman, dengan membantu menghadirkan Stockbit Academy.

Lewat fasilitas ini, kata dia, para pengguna dapat belajar saham dari nol, dengan dipandu oleh pengajar yang profesional. “Supaya tidak terjebak investasi bodong atau caranya salah jadi terlalu berisiko. Agar visi masa depan lebih baik, kita menghadirkan bagaimana analisis dan membaca laporan keuangan, dengan bahasa yang mudah agar semua bisa mengerti,” tuturnya.

Sementara itu, PT Aneka Tambang (Antam) menunjukkan kinerja positif. Ini terlihat dari capaian laba yang dihasilkan perusahaan pelat merah tersebut sepanjang periode sembilan bulan pertama 2021. Direktur Keuangan Antam Anton Herdianto menuturkan, pertumbuhan kinerja keuangan perseroan tidak terlepas dari upaya Antam untuk melakukan peningkatan nilai tambah produk, optimalisasi tingkat produksi dan penjualan, serta implementasi strategi pengelolaan biaya yang tepat dan efisien.

Kinerja operasi dan keuangan Antam yang solid tecermin dari capaian Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) per September sebesar Rp 3,94 triliun. Sementara itu, laba usaha perusahaan hingga kuartal III tercatat sebesar Rp 2,35 triliun, tumbuh 63 persen dibandingkan periode sama 2020 yang sebesar Rp 1,44 triliun.

“Pertumbuhan positif laba kotor dan laba usaha mendukung capaian laba tahun berjalan kuartal III Antam sebesar Rp 1,71 triliun, tumbuh 105 persen dibandingkan periode sama 2020 yang sebesar Rp 835,77 miliar,” kata Anton.

Dia menjelaskan, implementasi strategi operasional yang tepat mendukung capaian profitabilitas seluruh segmen operasi utama Antam yang berbasis pada komoditas nikel, emas, dan bauksit. Hal tersebut tecermin pada posisi arus kas bersih perusahaan yang diperoleh dari aktivitas operasi kuartal III sebesar Rp 4,45 triliun, tumbuh signifikan 298 persen dibandingkan periode sama 2020 sebesar Rp 1,12 triliun.

Selain itu, Antam juga telah memberikan kontribusi kepada negara dalam bentuk royalti, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan dividen. “Sebagai kontribusi kepada negara, pada tahun ini Antam telah memberikan kontribusi kepada negara sebesar Rp 1,63 triliun,” tutupnya.

Capaian ini juga diungkapkan Antam dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI pada 2 Desember 2021. Dalam rapat tersebut, Komisi VI DPR mengapresiasi capaian tersebut. Bahkan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Muhammad Haikal memuji kinerja Antam terutama terkait proyek pabrik feronikel Antam di Halmahera Timur yang masih punya harapan menghasilkan laba besar. Sebab, proyek tersebut hampir rampung, menunggu pasokan listrik saja.

Kendati demikian, ia berharap Antam agar benar-benar menjaga proyek tersebut. Ia berharap proyek strategi nasional yang dipegang Antam, tidak seperti yang dialami PT Krakatau Steel. “Kalau ini (PT Antam) masih ada harapan bisa beres. Mohon maaf tapi seperti di Krakatau Steel (KS), bikin dua pabrik habis USD 1-2 juta sama sekali tidak ada pemasukan hingga sekarang, malah lebih parah,” kata Haikal. (ndu/k15)