LUMAJANG–Janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk merelokasi warga di sekitar Gunung Semeru memantik harapan baru. Warga berharap janji itu segera direalisasikan. Sebab, mereka merasa trauma dan tidak mau lagi tinggal di lereng Semeru. ”Kalau bisa, relokasinya dipercepat dan tepat sasaran. Biar kami bisa bekerja dan sambung hidup lagi,” kata Suliadi, warga Dusun Kampung Baru, Desa Sumberwuluh, Lumajang, kepada Jawa Pos (Kaltim Post Group) di posko pengungsian Kecamatan Pasirian.

Suliadi sudah empat hari tinggal di posko tersebut. Dia tidak bisa melanjutkan pekerjaan sebagai penjual bakso. Dia berharap dapat meneruskan bisnis bakso itu di tempat baru nanti. Pernyataan senada disampaikan Giarti, warga Dusun Kamar Kajang. Dia mengalami trauma jika harus kembali menempati rumahnya. ”Ya, alhamdulillah kalau kami dibuatkan rumah lagi. Saya pribadi merasa terancam dengan kondisi itu. Terserah lokasinya di mana,” ucap ibu empat anak tersebut di posko Pasirian. Harapan juga disuarakan Meilita Defri Utamasari, guru kelas VI SD Supiturang 3, Dusun Curah Kobokan. Dia berharap sekolahnya direlokasi.

Menurut dia, relokasi itu penting untuk memulihkan kondisi psikis siswa yang terdampak erupsi Semeru. Dia menyebutkan empat siswanya menjadi korban erupsi Semeru. ”Anak-anak itu trauma. Bener. Mereka trauma sekali. Ada empat siswa kami yang hilang. Satu sudah ditemukan meninggal dunia,” ungkapnya. Sementara itu, berdasar pantauan Jawa Pos Radar Malang, kemarin (8/12), warga berbondong-bondong mendatangi rumah masing-masing. Mereka mencari barang-barang yang masih bisa diselamatkan.

Beberapa warga memutuskan untuk pindah. Salah satunya Halimah, 42. Dia tidak bisa lagi menempati rumahnya. Sebab, separuh rumahnya tertimbun abu vulkanis. Halimah juga mengalami trauma. Karena itu, dia memutuskan untuk pindah ke rumah saudaranya yang lebih aman. ”Sementara barang-barang akan saya titipkan ke rumah saudara. Saya berharap, pemerintah ngasih rumah di tempat yang lebih aman,” tuturnya. Duka yang sama dirasakan Kholifah, 37. Dia tidak mau lagi tinggal di dekat Gunung Semeru. Dia merasa sangat trauma dengan kejadian lima hari lalu itu. ”Bagaimanapun, ya saya gak mau. Sudah takut. Iya, kalau kejadiannya siang, kalau malam bagaimana,” kata ibu tiga anak tersebut.

Sementara itu, relawan dan personel BPBD gabungan yang dikerahkan kemarin lebih banyak daripada sebelumnya. Target utamanya adalah membantu warga menyelamatkan harta benda yang masih bisa digunakan. Beberapa anggota tim kemarin terlihat berupaya mengevakuasi mobil milik seorang warga. Mobil bernomor polisi N 1402 ZF itu terparkir di samping rumah pemiliknya. Abu vulkanis menenggelamkan separuh badan mobil tersebut. Evakuasi dipimpin Dwi Nur Priyanto, petugas lapangan BPBD. Dia menuturkan bahwa evakuasi harus dilakukan dengan hati-hati. ”Kami berusaha maksimal agar barang yang kami selamatkan itu masih bisa dipakai,” jelasnya.

Selain itu, Dwi mengungkapkan pihaknya akan mengubur hewan ternak yang mati. Sejak erupsi hingga kemarin, banyak bangkai hewan ternak yang berada di dalam kandang. Akibatnya, bau tidak sedap terasa menyengat. (zam/c14/oni/jpg/riz/k8)