Mereka mencari sumber pengetahuan agama melalui media. Sehingga pemerintah mesti memerhatikan media, yang akan menjadi sumber pengetahuan.

 

Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merilis survei nasional, terkait kebiasaan anak muda dalam menjalankan ritual keagamaan. Hasilnya, kelompok muda ini dinilai kurang rajin, namun memiliki latar belakang keagamaan yang konservatif.

Survei ini dilakukan pada 13–22 Oktober 2021, melibatkan 1.214 responden dari seluruh provinsi di Indonesia. Responden terdiri dari usia 17–24 tahun (Gen Z) 13,62 persen dan 25-40 (milenial) 40,74 persen. Sisanya kelompok usia 41–56 tahun (32,62 persen) dan usia 57–83 tahun (14,02 persen).

Koordinator survei nasional media dan agama PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Iim Halimatusa'diyah menyatakan, survei tersebut untuk mengetahui sejauh mana pengaruh media memengaruhi keberagamaan anak muda. Media yang dimaksud adalah TV, media sosial, radio, dan podcast.

"Secara umum survei ini menemukan bahwa kecenderungan anak muda (generasi milenial dan Gen Z, Red) tak begitu religius serta kurang rajin dalam menjalankan ritual-ritual keagamaan," paparnya.

Meskipun begitu para anak muda tersebut memiliki pandangan keagamaan yang lebih konservatif dibandingkan generasi di atasnya. Konservatif dalam survei ini diartikan aliran keagamaan yang menjadikan tradisi Islam awal (masa nabi dan sahabat) sebagai acuan berbagai sendi kehidupan. Serta harus diduplikasi secara literal atau tekstual.

Iim mengatakan, dalam survei itu ditemukan bahwa semakin tua seseorang, semakin rajin ritual keagamaannya. Sebaliknya untuk urusan aliran keagamaan, generasi muda lebih konservatif dibandingkan yang tua.   

Kondisi tersebut tidak lepas dari aktivitas anak muda mencari sumber pengetahuan agama di media. Sebanyak 84,15 persen responden menjawab TV sebagai sumber pengetahuan agama. Dalam pertanyaan lainnya, 64,66 persen responden menjadikan media sosial sebagai rujukan.

Berdasar hasil survei tersebut, Iim memberikan sejumlah rekomendasi. Di antaranya negara harus memerhatikan keberadaan media, karena masih menjadi saluran utama masyarakat mendapatkan sumber pengetahuan.

"Pengarusutamaan pesan-pesan atau konten-konten keagamaan yang lebih moderat diperlukan untuk menekan kecenderungan konservatisme," katanya.

Saat ini, kelompok yang konservatif cenderung aktif berkomentar di media sosial terkait isu-isu keagamaan. Sebaliknya kelompok muslim moderat lebih banyak diam atau menjadi silent majority.

Dari kondisi ini, kelompok yang beraliran keagamaan moderat perlu didorong supaya lebih aktif di media sosial. Sehingga bisa menekan dominasi kelompok konservatif. Pemerintah serta organisasi seperti MUI perlu terus memopulerkan isu keberagamaan yang moderat di media konvensional maupun media sosial. (wan/bay/jpg/dwi/k8)