Sebanyak 34 orang dilaporkan meninggal karena dampak awan panas guguran (APG) akibat erupsi Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Hal itu dikonfirmasi Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Surabaya I Wayan Suyatna. Wayan juga mengatakan, 16 orang masih dinyatakan hilang. ”Hingga saat ini, jumlah korban meninggal sebanyak 34 orang dan 16 orang masih dalam pencarian,” tutur Wayan, Selasa (7/12).

Basarnas menerjunkan 4 tim evakuasi. Mereka melakukan operasi pencarian terhadap korban terdampak awan panas guguran. Empat tim itu bergerak di beberapa titik. Yakni di Curah Kobokan, Kampung Renteng, dan lokasi penambangan pasir.

Saat ini, Wayan menyebut, aktivitas Gunung Semeru masih berpotensi meluncurkan awan panas guguran. Hal itu juga menjadi pertimbangan tim operasi dalam melakukan evakuasi korban. Berdasar data Basarnas Surabaya, jumlah korban yang mengalami luka berat 26 orang dan luka ringan 82 orang. Para korban sudah menjalani perawatan di puskesmas dan rumah sakit.

Sementara itu, Bupati Lumajang Thoriqul Haq menyampaikan, beberapa keputusan Presiden Joko Widodo yang sudah ditetapkan terkait erupsi Semeru adalah pembangunan kembali Jembatan Gladak Perak dalam jangka waktu sembilan bulan. Nanti jembatan baru dibangun dengan perubahan pondasi konstruksi desain jembatan yang lebih aman.

”Kemudian juga akan dibangun jembatan gantung sebagai jembatan sementara untuk penghubung Kecamatan Candipuro–Kecamatan Pronojiwo yang bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda tiga,” tutur Thoriqul Haq seperti dilansir dari Antara. Selanjutnya, menurut bupati, akan dilakukan pembangunan jalan pintas antar kecamatan yakni Kecamatan Pasirian–Tempursari sebagai akses kendaraan roda 4 untuk menuju Kecamatan Pronojiwo.

”Keputusan yang lain yakni melakukan relokasi (pindah tempat) kawasan pemukiman yang terkena awan panas guguran di lahan Perhutani di desa setempat atau kawasan yang berdekatan dari pemukiman warga asal,” papar Thoriqul Haq.

Berdasar data, rumah yang akan direlokasi di Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, tercatat sebanyak 60 KK. Kebutuhan lahan sekitar 3 hektare di Desa Sumberwuluh dan Desa Penanggal. Kemudian Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, sebanyak 217 KK dengan kebutuhan lahan seluas 10 hektare di Desa Penanggal. Di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, tercatat 330 KK dan kebutuhan lahan seluas 15,4 hektare di Desa Oro-oro Ombo.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Kementerian PUPR Hedy Rahadian mengatakan, akan membangun kembali jembatan Gladak Perak di titik yang sama, namun dengan struktur bangunan yang berbeda.

Dia menilai kerusakan jembatan Gladak Perak salah satunya diduga karena pondasi yang menopang dari bawah sudah terkikis terjangan lahar dingin, ditambah pengaruh awan panas guguran Gunung Semeru. ”Untuk itu, kami akan melakukan konstruksi ulang struktur bangunan jembatan Gladak Perak agar tidak bergantung pondasi bawah,” terang Hedy. 

 

HUJAN YANG BIKIN PANIK

Hujan deras mengguyur pemukiman di kawasan sekitar Gunung Semeru. Termasuk di wilayah Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Selasa (7/12) sekitar pukul 19.00 WIB. Hujan berlangsung sekitar satu jam hingga membuat beberapa warga panik. Sejumlah warga memilih pergi ke tempat pengungsian saat hujan agak reda. Warga juga berkoordinasi dengan perangkat desa.

Alat komunikasi berupa HT milik relawan yang bertugas terus didengarkan seksama sembari menunggu perkembangan dari petugas di posisi yang lebih atas, khususnya dari kawasan Kecamatan Pronojiwo. 

Saat hujan reda, jalanan utama depan balai desa sempat dilewati truk-truk besar mengangkut alat berat seperti ekskavator maupun jenis lainnya. ”Alat berat diminta turun dulu sementara, ke tempat lebih aman,” kata salah seorang pengemudi atau operator alat berat saat ditanya alasannya. Sementara itu, salah seorang relawan menytakan, usai hujan sempat terjadi banjir bandang di aliran sungai. Namun tidak sampai menuju Desa Sumberwuluh. ”Di atas juga masih hujan deras dan volume air terus meningkat. Banjir di sungai tapi diperkirakan tidak sampai Sumberwuluh,” terang dia. Pada Sabtu (4/12) sore, terjadi peningkatan aktivitas Gunung Semeru yang mengeluarkan awan panas dan berdampak pada daerah di sekitar gunung setinggi 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) tersebut. Ratusan warga terpaksa harus mengungsi ke berbagai tempat aman untuk menghindari awan panas di gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu. (jpc)