BALIKPAPAN – Konsumsi masyarakat Balikpapan terus menunjukkan penguatan. Ini terlihat dari inflasi yang terjadi pada November lalu di level 0,27 persen (month to month/mtm). Lebih tinggi dibandingkan Oktober 2021 yang mengalami inflasi sebesar 0,05 persen (mtm). Sementara secara tahunan, inflasi indeks harga konsumen (IHK) Balikpapan tercatat sebesar 1,80 persen (year on year/yoy).

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan Mahdi Abdillah menuturkan, inflasi di Balikpapan disebabkan kenaikan harga pada kelompok transportasi dengan andil 0,32 persen (mtm), didorong kenaikan tarif angkutan udara sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat di tengah pelonggaran aktivitas sosial.

Terjadi juga pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar rumah tangga dengan andil 0,05 persen (mtm) didorong oleh kenaikan beberapa komoditas bangunan, seperti semen, cat tembok, dan seng.

“Inflasi juga dialami oleh kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga dengan andil 0,01 persen (mtm) yang didorong oleh komoditas detergen bubuk/cair sejalan dengan adanya penyesuaian harga dari produsen,” bebernya.

Lebih lanjut, Mahdi mengatakan, kelompok makanan, minuman dan tembakau terjadi deflasi dengan andil 0,09 persen (mtm). Yang didorong karena menurunnya harga komoditas sayuran hijau seperti kangkung, sawi hijau, bayam serta komoditas lain seperti tomat, dan ikan selar.

Ke depan, beberapa faktor diperkirakan akan memberikan tekanan inflasi. Pertama, disebabkan naiknya konsumsi masyarakat di dalam kota, seiring dengan adanya larangan bepergian di periode Nataru. Kedua, berlanjutnya kenaikan harga minyak goreng seiring dengan naiknya harga crude palm oil (CPO) dunia. Serta kenaikan harga komoditas ikan-ikanan di tengah cuaca yang kurang kondusif.

“Namun, deflasi tertahan oleh kenaikan beberapa komoditas di kelompok makanan, seperti minyak goreng, cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah,” beber Mahdi.

Dia memastikan Bank Indonesia bersama pemda melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan terus bersinergi dan berkolaborasi menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. “TPID juga memperkuat koordinasi guna menjaga inflasi tetap rendah dan stabil menuju sasaran 3 persen lebih kurang 1 persen,” pungkasnya. (lil/ndu/k15)