Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus berinovasi, salah satunya program Digitalisasi Kios Inflasi Samarinda yang diresmikan di Swiss-Belhotel Samarinda, Sabtu (4/12).

 

SAMARINDAInovasi itu diciptakan untuk memberikan kemudahan masyarakat memantau harga hingga ketersediaan pasokan bahan kebutuhan pokok dan penting (bapokting), sehingga menjelang hari besar keagamaan yang biasanya ada peningkatan harga di pasaran, bisa dikendalikan.

Wali Kota Samarinda Andi Harun menyebut, kios inflasi dalam bentuk digital diharapkan semakin memperluas jangkauan ke masyarakat. Ke depan OPD terkait didorong untuk menyosialisasikan secara masif aplikasi tersebut. Tujuannya agar masyarakat bisa ikut memantau jumlah pasokan, distribusi, dan pengendalian harga,” jelasnya.

Sementara itu, Kabag Ekonomi dan Sumber Daya Alam (SDA) Pemkot Samarinda Dinvi Kurniadi menjelaskan, selama ini dalam rangka mengendalikan inflasi, pemkot kerap menggelar pasar murah. Misalnya di 2021, tercatat 11 titik dilaksanakan operasi pasar murah, sehingga atas inovasi tersebut, Pemkot Samarinda diganjar penghargaan TPID Awards 2021 oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI. Saat harga barang-barang pokok naik, kios inflasi itu yang bermain. Namun, tahun ini dengan diluncurkan kios inflasi digital, akhirnya yang dulunya hanya offline dilaksanakan secara digital,” ucapnya.

Penghargaan TPID Award 2021 diserahkan langsung Asisten Deputi Moneter dan Sektor Ekstern Kementerian Perekonomian Republik Indonesia Dr Surya Irawan kepada Wakil Wali Kota Samarinda Rusmadi di ruang rapat Ruhui Rahayu Kegubernyuran Kaltim, Jumat (10/9). Kios inflasi ini menjadi satu dalam aplikasi Bebaya Mart yang juga merupakan inovasi dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Samarinda, untuk memberikan layanan bagi UMKM di Samarinda dalam memasarkan produknya. Lewat penggunaan aplikasi itu, warga ke depannya jika ingin membeli sembako tinggal memesan dari rumah dengan sistem pembayaran tunai maupun digital. Bebaya Mart sudah dilengkapi dengan kurir untuk memudahkan pengantaran. Gampangnya seperti Go-Jek atau Grab, tetapi itu produk lokal,” tegas Dinvi.

Terkait pemasok bahan kebutuhan, lanjut Dinvi, kios inflasi dikelola penuh Perusahaan Daerah Pergudangan dan Aneka Usaha (PDPAU) yang ke depan akan berubah nama menjadi Perusda Varia Niaga. Sedangkan untuk layanan dari Bebaya Mart, warga bisa mengunduh aplikasi melalui Google Play StoreIntinya adanya kios inflasi digital tidak bertujuan meraup untung sebanyak-banyaknya, melainkan mengendalikan inflasi daerah, sehingga masyarakat bisa memperoleh harga terbaik atas bahan kebutuhan pokok,” tutupnya. (dns/dra/k16)