Musik dan tari adalah jembatan kebudayaan yang mesti dilestarikan. Bisa dijadikan ekstrakurikuler wajib di sekolah.

ULIL MUA’WANNAH, Samarinda

Asrani Rasyidi, seniman musik asal Kota Tepian, dua kali menjalani operasi. Kini berjuang melawan strok.

Lantaran kondisi jantungnya, Asrani Rasyidi harus dua kali merasakan dinginnya meja operasi. Pertama pada 2015, akibat pembengkakan jantung. Dia mendapatkan tiga ring sekaligus. Lalu, ditambah dua ring pada dua tahun berikutnya.

Dua bulan lalu, dia juga terkena strok. Kondisinya sekarang mulai berangsur membaik. Namun, tubuh bagian kanan masih tidak leluasa bergerak. Bicara pun belum kembali lancar.

Setiap hari kala pergi bekerja, Kepala Bidang Usaha Jasa dan Sarana Pariwisata Dinas Pariwisata Kaltim ini juga harus diantar jemput. Jalan pun terkadang harus dituntun. Masih butuh penyesuaian dengan situasi tubuhnya sekarang.

Melalui sambungan telepon, Jumat (3/12), bunyi tuts keyboard terdengar indah. Walau terbatas, jemarinya masih fasih memainkan sebuah aransemen lagu. Dia ingin membuktikan bahwa keterbatasan yang dialaminya sekarang bukanlah penghalang.

“Musik itu sulit buat saya lupakan. Karena musik sudah jadi bagian dari hidup saya,” tuturnya dengan suara terbata-bata, namun masih menyiratkan semangat ketika diajak awak media ini berbincang.

Pria yang lahir pada 1965 di Bengalon, Kutai timur, tersebut telah menciptakan lebih 20 lagu. Karya berjudul Dendang Benua juga sempat diputar di siaran televisi dan radio lokal medio 1990-an.

Lulusan S-2 Universitas Mulawarman pada 2013 itu mampu memainkan berbagai alat musik. Bukan hanya keyboard, gitar, drum, gendang, sape, dan masih banyak lagi telah dia kuasai.

Sedari masih bujang, dia juga mengisi pemain organ. Tampil mengisi acara nikahan maupun perlombaan. Hingga melatih paduan suara dari kampus ke kampus.

Aktif di berbagai bidang, tidak hanya musik, ternyata Asrani juga mendirikan sanggar tari. Bina Seni Budaya Indonesia atau BSBI Group itu telah didirikannya semenjak 1992 silam.

Memanfaatkan lantai dua rumahnya yang difungsikan sebagai lokasi mengajar tari. Asrani menetap di Jalan Kemakmuran, Gang PLN, Nomor 1, Sungai Pinang, Samarinda.

Dulu, sebelum sakit dirinya kerap diundang menjadi juri musik tradisional, vokal grup, paduan suara, dan tari kreasi daerah. Tak hanya di Samarinda, dia sering pula bepergian ke luar kota untuk menjadi narasumber.

Dia membagikan pula sebuah pengalaman tak terlupakan. Pada 2012–2013, dia pernah diundang tampil di Eropa. Masing-masing perwakilan 13 seniman asal Indonesia yang diundang diminta menampilkan delapan lagu.

Di belakang keberhasilannya, tidak luput dari perang orangtuanya. Nama belakang yang digunakan merupakan warisan dari nama sang ayah, Rasyidi. Seorang seniman musik hadrah Kutai. Dari ayahnyalah Asrani mengenal dunia musik.

Putra-putri yang dimilikinya, Asfian Nur Gusprada dan Amanda Tabitha Kintani, juga mewarisi bakat tersebut. Tanpa paksaan. Dia senang kedua anaknya mampu bermain musik.

Musik dan tari adalah jembatan kebudayaan. Sedari itu, generasi muda harus mampu melestarikannya. Terlebih dengan era digital, bermain musik tidak hanya dapat dilakukan secara offline. Melalui berbagai platform media, musik dan tarian mampu berkembang pesat.

Namun menurut dia, seni musik, tari, rupa, sastra, maupun film mestinya dapat menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah. Agar, anak-anak muda mampu mengenal khazanah budaya lokal. Dengan begitu, mereka mampu mencintai negeri ini lebih dalam. Bukan sekadar ikut-ikutan.

Dia berharap, event Nusantara Bagenjoh yang sempat digelar pada 2018–2019 dapat kembali digelar. Mengingat selama pandemi ini masih sedikit kegiatan yang bisa dilaksanakan. Jumlah seniman pun tak sedikit.

Untuk memberi tempat bagi para seniman Kaltim agar bisa menampilkan karya-karya mereka. Tanpa meninggalkan seniman terdahulu yang telah memberikan banyak karya dan warna bagi Tanah Borneo ini.

“Menjadi seorang seniman butuh konsentrasi dan konsistensi. Sebab, musik sebuah kolaborasi jiwa dan raga si seniman. Seniman adalah seniman, bagian dari kebudayaan,” tutur Asrani. (***/dwi/k8)