SAMARINDA-Persoalan pasokan kekurangan energi melanda sejumlah negara seperti Inggris dan Tiongkok. Sehingga energi baru terbarukan (EBT) berbasis minyak sawit bisa membantu mengatasi krisis energi yang dihadapi banyak negara. Kaltim sebagai salah satu penghasil crude palm oil (CPO), berpotensi mengembangkan biodiesel sebagai jawaban atas krisis energi itu.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, dengan krisis energi yang sekarang terjadi di beberapa negara, EBT berbasis kelapa sawit akan menjadi solusi atau alternatif. Itu akan menjadikan kelapa sawit sebagai industri yang signifikan dalam sektor energi terbarukan.

“Tahun 2021 merupakan tahun yang luar biasa bagi industri kelapa sawit. Harga rata-rata minyak sawit mentah (CPO) telah melampaui USD 1.000 per metrik ton sepanjang tahun,” jelasnya saat 17th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2022 Price Outlook, secara virtual, Kamis (2/12).

Saat ini, kelapa sawit memang mengalami masa keemasan. Sebab sepanjang 2021, harga CPO terus mengalami peningkatan. Harga rata-rata CPO di atas USD 1.000 per metrik ton, bahkan mencapai puncak tertinggi, yaitu USD 1.390 per metrik ton pada Oktober lalu. Tingginya harga CPO, menurut Joko, akibat terganggunya produksi beberapa minyak nabati, sedangkan demand sedang tinggi-tingginya. Tidak sinkronnya supply dan demand itu yang membuat harga betah berada di puncak tertinggi.

Selain itu, pemulihan ekonomi beberapa negara pengimpor kelapa sawit juga membuat permintaan semakin tinggi. Utamanya, permintaan dari Tiongkok. Mulai pulihnya industri di Tiongkok membuat permintaan minyak nabati terus bertambah. Sehingga peningkatan saat ini tidak hanya CPO, namun rata-rata minyak nabati. “Tingginya permintaan membuat supply dan demand tidak sinkron, sehingga harga naik. Tapi tidak hanya CPO, nabati lain juga sedang naik,” tuturnya.

Ke depan, harga CPO juga masih berpotensi naik. Hal itu tak lepas dari banyaknya permintaan CPO, salah satunya biodiesel. Joko meyakini, biodiesel akan menjadi alternatif untuk mengatasi krisis energi. Sehingga tingginya harga itu akan berlanjut pada 2022. Saat ini, persoalan pasokan kekurangan energi melanda ekonomi di seluruh dunia, termasuk Inggris dan Tiongkok. Selama akhir pekan bahwa musim dingin bisa memperburuk krisis energi di Eropa. “Sehingga, minyak turunan kelapa sawit bisa menjadi solusi,” katanya.

Dia menjelaskan, tahun depan, industri sawit akan terus memberikan kontribusi besar terutama dalam pemulihan ekonomi berkelanjutan. Pihaknya yakin tahun mendatang, industri kelapa sawit akan tetap menjadi kontributor besar bagi neraca perdagangan Indonesia. Sebab, permintaan kelapa sawit akan terus meningkat, terutama saat krisis energi di sejumlah negara.

“Terjadinya krisis energi di beberapa negara saat ini, membuka peluang bagi energi terbarukan berbasis kelapa sawit. Seperti biodiesel akan menjadi solusi sekaligus alternatif yang berkelanjutan,” jelasnya. (ctr/rom/k15)