Industri pertanian diprediksi menjadi primadona baru di pasar modal. Sebab, sektor tersebut mampu bertahan (resilience) di tengah krisis akibat persebaran SARS-CoV-2. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan tertinggi mencapai 12,93 persen year-on-year (YoY) pada semester I 2021. Juga, mampu menyerap 29,5 persen tenaga kerja per Februari 2021.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Muhammad Firdaus mengatakan, pertanian itu penting pada masa pandemi maupun pascapandemi. Sektor tersebut masih menjadi sumber cadangan devisa Indonesia. Mengingat, ekspornya pada semester I 2021 mencapai Rp 282 triliun atau USD 1,95 miliar. ’’Selama pandemi ekspor pertanian meningkat sehingga menjadi salah satu sumber cadangan devisa,” ucapnya secara virtual kemarin (2/12).

Hasil FEM IPB menunjukkan, lanjut dia, terdapat empat komoditas pertanian yang masuk 10 besar ekspor unggulan. Yakni, minyak nabati, termasuk minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO). Lalu, karet remah dan karet asap, kakao, serta kopi.

Meski demikian, alumnus doktoral Universiti Putra Malaysia itu tidak menampik sektor pertanian masih memiliki pekerjaan rumah ke depan. Antara lain, produktivitas perkebunan dan hortikultura masih rendah, proses produksi dan rantai pasok belum efisien, harga berfluktuasi, food losses masih tinggi, serta kapasitas sumber daya manusia (SDM).

Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menyampaikan, industri pertanian memiliki potensi yang besar untuk menjadi sektor penggerak pemulihan ekonomi nasional. Indonesia sebagai negara dengan lahan pertanian, kehutanan, dan perikanan yang terbesar di Asia Tenggara memiliki modal menguasai pasar global. Karena itu, Bhima menekankan pentingnya menjaga produktivitas pertanian dan tata kelola lahan.

Dari sisi potensi investasi, Bhima menilai sektor pertanian memiliki prospek yang cerah, khususnya di pasar saham. Tidak kalah menarik dibandingkan sektor yang sedang booming, seperti e-commerce dan digitalisasi di sektor keuangan. Buktinya, emiten-emiten saham berbasis komoditas pertanian dan perkebunan tercatat mengalami kenaikan yang signifikan selama masa pandemi.

Indeks agrikultur hingga November 2021 telah mengalami kenaikan sebesar 22 persen selama setahun. Sebagai perbandingan, lanjut dia, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada periode yang sama hanya mencatatkan kenaikan 18,8 persen. Sedangkan dari instrumen surat berharga negara (SBN), imbal baliknya hanya 6?7 persen. ’’So far dengan tingkat risiko yang sama, tidak ada yang bisa mengalahkan sektor pertanian. Jadi ini time to buy. Kalau yang sudah punya time to hold dan buy more,” tuturnya.

Lulusan University of Bradford itu memperkirakan performa sektor pertanian terus meningkat mengalahkan level tertingginya pada 2017. ’’Jadi, ini only the beginning, kalau terlambat masuk, nanti harganya sudah kemahalan,” ujarnya. (han/c7/dio)

Indeks Saham Sektoral 

 

- Pertanian : 1.577,24 (tetap)

- Pertambangan : 1.939,76 (tetap)

- Keuangan : 1.532,34 (+1,08 persen)

- Kesehatan : 1.453,08 (+0,97 persen)

- Infrastruktur : 989,06 (+0,69 persen)

 

Sumber: investing.com