SIDOARJO – Sepak bola Indonesia di semua level kompetisi tak pernah sepi dari masalah. Setelah kasus dugaan match fixing dan dokter palsu, berbagai kerusuhan di lapangan juga terjadi di pentas Liga 3. Kasus terbaru adalah soal wasit yang dikeroyok pemain Arema Indonesia di babak 32 besar Liga 3 zona Jawa Timur.

Kubu Arema Indonesia kecewa dengan kepemimpinan wasit Budi Utomo ketika mereka menghadapi Madura FC di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo. Kekecewaan itu berawal dari gol Fariz Bagus Dhinata pada menit ke-63 yang dianulir Budi. Fariz sempat melakukan protes sangat keras. Dia merasa bola tendangannya masuk ke gawang lawan. Namun, Budi bersikeras bahwa bola belum melewati garis gawang. Arema Indonesia saat itu memang sedang tertinggal 0-1 setelah pemain Madura FC M. Risal Amin mencetak gol pada menit ke-5.

Nah, setelah gol dianulir, beberapa kali aksi protes dilakukan pemain Arema Indonesia atas keputusan wasit Budi. Salah satunya ketika Fariz menarik kerah wasit Budi pada menit ke-74. Fariz merasa Budi menguntungkan lawan. Sebab, dua pemain Madura FC yang cedera dan dirawat di pinggir lapangan diminta masuk kembali. Saat itu Arema Indonesia tengah melakukan tendangan bebas. Padahal, seharusnya pemain lawan boleh masuk setelah Arema Indonesia melakukan tendangan bebas.

Kemarahan skuad Arema Indonesia akhirnya benar-benar diluapkan setelah Budi meniup peluit panjang. Fariz yang sudah sangat emosional mengejar Budi hingga pinggir lapangan. Tendangan dilayangkan. Buk!!! Budi langsung tersungkur menabrak kursi pengawas pertandingan.

Beruntung, pihak keamanan sigap. Budi langsung diamankan dari amukan pemain Arema Indonesia. ’’Kami sudah merasa wasit tidak beres setelah menit ke-15 ke atas. Kepemimpinannya berat sebelah. Padahal wasit senior itu,’’ kecam pelatih Arema Indonesia Redi Supriyanto.

Redi menambahkan, sebenarnya pertandingan berlangsung menarik. Kedua tim saling jual beli serangan. ’’Ya itu karena keputusan wasit yang tidak benar, mental pemain kami down. Emosi, taktik kami tidak jalan,’’ keluhnya.

Kericuhan sempat berlanjut di lorong stadion. Owner Arema Indonesia Novi Zaenal beberapa kali meneriakkan kekecewaannya terhadap wasit. Dia menilai wasit berat sebelah, merugikan timnya.

’’PSSI amis. Janjinya apa mau memperbaiki kualitas wasit? Sekarang buktinya seperti ini,’’ teriak Novi.

Menurut Novi, Budi sudah dua kali merugikan Arema Indonesia. ’’Dua tahun lalu dia membuat kami kalah, diskors dua tahun. Sekarang diminta memimpin pertandingan kami lagi, menjegal kami lagi,’’ paparnya.

Novi kecewa dengan Asprov PSSI Jawa Timur sebagai penyelenggara Liga 3 zona Jatim. Sebab, mereka masih menggunakan wasit yang pernah diskors untuk laga sepenting babak 32 besar. ’’Masak iya memimpin pertandingan kami lagi?’’ ujarnya.

Istri mendiang Lucky Acub Zaenal itu menambahkan, dirinya tidak menyalahkan pemainnya yang sempat melakukan protes hingga menendang wasit. Bagi dia, pemain tentu sangat emosional dengan apa yang ditunjukkan wasit asal Pasuruan itu di lapangan. ’’Kami persiapan selama lima bulan sampai saat ini. Target kami naik ke Liga 2, tentu kecewa dan emosi,’’ tegasnya.

Apakah akan mengajukan protes? Novi tidak mau berkomentar. Bagi dia, percuma mengajukan protes karena tidak bisa mengubah hasil yang merugikan Arema Indonesia. ’’PSSI buyar ae,’’ ujarnya. (rid/c17/bas)