SAMARINDA–Satu demi satu program unggulan yang diusung Wali Kota Samarinda Andi Harun bersama wakilnya Rusmadi mulai digarap, salah satunya dokter on call.

Dalam realisasinya, masyarakat dapat berkonsultasi atas permasalahan kesehatan yang dialami kepada dokter yang siap sedia 24 jam, dengan target layanan yakni pasien dengan kondisi darurat, balita, dan lansia.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda dr Ismid Kusasih menerangkan, layanan itu masih tahap uji coba selama Desember. Di 10 puskesmas sudah dibentuk tim khusus, terdiri dari satu dokter, perawat, dan bidan yang siap memberikan pelayanan dalam dua sif dari pukul 07.30–22.30 Wita. “Pelayanan awal melalui telepon, jika sekiranya bisa memenuhi syarat kegawatdaruratan dari sisi medis, tim akan langsung menuju ke tempat pasien berada,” tambahnya.

Dia menjelaskan, selama masa uji coba, pihaknya akan gencar memberi sosialisasi, terutama melalui 10 camat agar dapat meneruskan hingga ke tingkat lurah dan RT. Khususnya memberikan pengertian tentang kegawatdaruaratan versi medis. “Misalnya ketika terjadi pendarahan, versi medis disebut darurat jika sudah 30 persen dari volume darah. Kami juga ke depan akan melakukan peningkatan prasarana, misalnya motor untuk lebih cepat menjangkau,” jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Samarinda Andi Harun memberi waktu satu bulan untuk uji coba karena merupakan program yang baru, dan akan banyak masalah yang terjadi. Begitu juga mengenai perlengkapan, ke depan pihaknya berencana melengkapi dengan minimal satu ambulans yang sudah dilengkapi mesin elektrokargodiogram (EKG) dan defibrilator, serta perlengkapan pendukung lain. “Patut menjadi perhatian layanan ini hanya untuk pasien gawat darurat, lansia dan balita, dan diberikan gratis kepada masyarakat,” jelasnya.

Setelah masa uji coba, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap berbagai kekurangan dan melakukan pembenahan. Harapannya pada 2022 mendatang paling tidak jumlah puskesmas yang melayani bisa lebih banyak, mengingat Samarinda punya 26 puskesmas di 10 kecamatan. “Ke depan jika keuangan daerah membaik, tentu para tenaga kesehatan akan diberikan apresiasi. Kami juga masih menyusun skemanya,” tutup dia. (dns/dra/k8)