Eksistensi Mitra Kukar sebagai salah satu klub sepak bola profesional besar di Indonesia kian terbenam. Itu setelah mereka dipastikan terdegradasi dari Liga 2 2021. Musim depan, mereka akan berjuang dari kompetisi kasta terbawah, Liga 3.

 

KEPASTIAN degradasinya Naga Mekes itu didapat setelah seluruh pertandingan di Grup D tuntas terlaksana, Kamis (2/12). Nasib tim kebanggaan publik Kota Raja ditentukan oleh hasil pertandingan dua tim Papua, Persewar Waropen dan PSBS Biak yang bertanding kemarin.

Laga tersebut berakhir imbang. membuat mereka bersama Mitra Kukar sama-sama mengoleksi 12 poin. Namun, Mitra Kukar kalah head to head dengan PSBS Biak. Situasi itu membuat Mitra Kukar terjerumus ke status juru kunci alias posisi terakhir.

Penampilan tidak konsisten Mitra Kukar di fase grup menjadi penyebab utama terdegradasinya tim yang bermarkas di Stadion Rondong Demang tersebut. Pada putaran pertama yang dimainkan di Kalimantan Tengah, Mitra Kukar hanya mampu memetik dua kemenangan. Sedangkan di putaran kedua, Anindito Wahyu cs hanya menang satu kali.

Terperosok ke Liga 3 membuat kapten tim Anindito Wahyu terpukul. Sebagai pemimpin rekan setim, pemain asal Solo itu meminta maaf kepada masyaralat Kukar atas apa yang menimpa Naga Mekes. Sebagai kapten tim, dia mengaku sudah bekerja keras, namun hasil akhir tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

“Terpukul sekali karena tim yang saya pimpin terdegradasi. Saya mewakili para pemain meminta maaf kepada pendukung dan terutama masyarakat Kukar,” ungkap Anindito.

Dia menambahkan, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap tim, dirinya siap memperkuat Mitra Kukar meskipun bermain di Liga 3. Itu pun jika manajemen menghendaki dirinya bertahan di tim musim depan. “Selagi tenaga saya dibutuhkan Mitra Kukar, saya siap sekalipun bermain di kasta terendah sekalipun. Ini komitmen saya bersama Mitra Kukar,” imbuh dia.

Anindito Wahyu merupakan satu-satunya pemain yang merasakan pahit dan manisnya memperkuat Mitra Kukar. Anindito adalah salah satu pemain yang membawa Mitra Kukar promosi ke Liga 1 pada 2011/2012. Saat tim Kota Raja degradasi ke Liga 2, dia juga tercatat sebagai pemain. Hingga akhirnya turun kasta ke Liga 3, Anindito tetap menunjukkan loyalitasnya bersama Mitra Kukar.

Pelatih Mitra Kukar Asep Suryadi juga menyampaikan permohonan maaf atas kegagalannya membawa Mitra Kukar bertahan di Liga 2. “Semua sudah bekerja keras, tapi hasil akhirnya tidak sesuai ekspektasi. Saya prbadi sebagai pelatih meminta maaf atas kegagalan ini,” ucap ayah dua anak tersebut.

Terpisah, Ketua Mitman Yuliansyah tak banyak komentar soal terdegradasinya Mitra Kukar ke Liga 3. Dia menyebut tidak etis hanya menyalahkan pemain atau manajemen atas kegagalan tim musim ini. “Sedih, pasti. Tapi tidak perlu mencari kambing hitam. Semua sudah terjadi, ambil hikmahnya saja,” tutur pria yang karib disapa Ulink tersebut.

Mitra Kukar mulai eksis di persepakbolaan Tanah Air sejak 2002 di Divisi II. Klub yang sebelumnya bernama Mitra Kalteng Putra berjuang selama sembilan tahun untuk bisa mencicipi atmosfer sepak bola kasta tertinggi Tanah Air pada 2011/2012. Namun sayang, eksistensi itu terhenti setelah musim keenam. Tepatnya pada 2018 saat Naga Mekes terlempar ke Liga 2. Dan kini, tim kebanggaan masyarakat Kukar itu harus memulai semuanya dari level terbawah. (don/ndy)