BALIKPAPAN – Pengusaha mendorong pemerintah segera melakukan pengendalian emisi dunia. Sebab, dampak yang begitu besar dari efek rumah kaca. Ada peningkatan panas bumi bisa mengakibatkan berbagai bencana. Salah satu cara mengatasinya dengan mengendalikan emisi gas.

Praktisi pemeliharaan kendaraan di Kota Beriman, Andhika Hasan menyebutkan, permasalahan kadar CO2 yang terus meningkat hingga mengakibatkan efek rumah kaca menjadi perhatian dunia. Bahkan saat Presiden RI Joko Widodo pimpin presidensi G-20 di Roma, Italia beberapa waktu lalu.

Poin penting dari pertemuan tersebut, 20 negara terbesar di dunia sepakat mengendalikan kadar CO2. “Kita di Indonesia sangat ketinggalan, jadi kita dipaksa mengejar mengurangi gas buang mulai dari industri hingga transportasi,” ungkapnya.

Menurutnya, tentu ada biaya untuk mengendalikan emisi gas, tapi mau tidak mau pengendalian emisi gas perlu dilakukan karena dampaknya yang besar. Saat terjadi pemanasan global secara terus-menerus membuat ekosistem rusak dan perubahan iklim yang ekstrem.

Maka dia berharap transportasi masa depan bisa mengejar standardisasi di dunia. Dia menambahkan, kini standardisasi di Dinas Perhubungan maupun Dinas Lingkungan Hidup seharusnya sudah standar emisi Euro 4 dan menuju Euro 5. “Tapi, kendaraan kita yang beredar saat ini masih Euro 2,” ucapnya.

Sehingga untuk mengendalikan emisi kendaraan, ini beban bagi pengusaha transportasi untuk mengurangi emisi gas buang dari kendaraan. “Kami berharap kendaraan bisa tetap menjadi alat kendaraan transportasi, tapi gas buangnya membaik dengan perawatan khusus,” imbuhnya.

Jika melihat kondisi saat ini, pekerjaan untuk mengurangi kadar CO2 masih sulit. Meski Kalimantan terkenal sebagai paru-paru dunia karena keberadaan hutan yang luas. Namun kenyataannya, mulai terjadi pengurangan hutan yang tidak dapat dimungkiri. Melihat dari banyaknya daerah di Kalimantan terkena bencana banjir.

“Tapi kontribusi selain hutan, kalau bisa kendaraan di Kaltim sudah ramah lingkungan,” sebutnya. Caranya mendorong unit transportasi ramah lingkungan, terutama elektrifikasi kendaraan. Upaya elektrifikasi kendaraan roda dua dan roda empat harus berjalan perlahan sampai 20 tahun mendatang.

Hingga akhirnya kendaraan dengan bensin dan solar bisa berkurang dan hilang pada 2040. “Jadi elektrifikasi mulai dari sekarang dengan regulasi dan insentif dari pemerintah dan pelaksana. Sepeda motor elektrik bisa menjadi angkutan di masa depan,” tutupnya. (gel/ms/k15)