PAUL-Erik Hoyer Larsen menghadapi tantangan berat selama masa pandemi. Badminton World Federation (BWF) yang dia pimpin harus mengatur agenda turnamen yang tak lagi berjalan normal. Apa saja penjelasan pria yang sudah tiga periode memimpin federasi bulu tangkis dunia tersebut?  Berikut petikan wawancara Jawa Pos via surat elektronik (surel) dengan Paul.

 

JAWA POS (JP):Pandemi membuat kalender BWF 2021 banyak berubah. Dampaknya, agenda turnamen terlalu padat di akhir tahun? Banyak dari pemain mengaku terlalu lelah selama di Bali. Bagaimana menurut Anda?

PAUL-ERIK (PE): Sejak 1 September 2020, kami telah mencabut aturan pemain papan atas wajib tampil di semua turnamen tingkat atas. Itu berlaku selama pandemi Covid-19. Ini telah dikomunikasikan kepada semua asosiasi anggota dan pemain secara resmi. Memang, tahun ini ada lebih banyak kejuaraan mayor yang dilaksanakan setelah Olimpiade Tokyo 2020. Untuk Bali Leg, kami telah menyampaikan bahwa tidak wajib bagi pemain tampil di Indonesia Masters dan Indonesia Open sekaligus sebagai syarat lolos ke World Tour Finals. Namun, banyak pemain memutuskan bermain di dua ajang ini atas keputusan sendiri dan pelatih. Mungkin ini juga karena jumlah turnamen yang lebih rendah di awal tahun karena Covid-19.

JP:Apa memaksakan turnamen tingkat atas tetap belangsung di akhir tahun terkait kewajiban BWF kepada sponsor?

PE: Tujuan kami adalah menjalankan turnamen secara konsisten untuk mengoptimalkan eksposur kepada olahraga ini dan untuk dinikmati penggemar. Ini juga demi melindungi mata pencaharian komunitas pemain elite maupun pihak-pihak lain yang terlibat dalam industri olahraga ini. Pihak sponsor sangat setia kepada kami selama periode Covid-19. Dan kini mereka sangat senang kompetisi bulu tangkis berangsung-angsur pulih.

JP:Usai insiden kesalahan hawk eye di pertandingan Marcus/Kevin pada semifinal Indonesia Masters 2021, apa BWF mulai berpikir menggunakan pihak ketiga lain sebagai mitra?

PE:Sampai saat ini kami masih memiliki kepercayaan penuh pada mitra teknologi kami, Hawk-Eye Innovations. Kami berkomitmen terus bekerja sama dengan mereka untuk memastikan teknologi hawk-eye berjalan akurat pada masa mendatang.

JP:Apa alasan memilih Indonesia sebagai tuan rumah BWF World Tour Final tahun ini?

PE:BWF punya sejarah panjang, dan membanggakan bermitra dengan PBSI dalam menghadirkan turnamen kelas dunia. Sejak awal kami yakin mereka (Indonesia) mampu memberikan serangkaian acara luar biasa bagi para pemain. Kompetisi di dalam gelembung selama tiga minggu di Bali ini hasil kolaborasi erat BWF dengan PBSI. BWF berterima kasih kepada PBSI atas komitmen dan kerja keras dalam mewujudkannya.

JP:Apa pogram utama yang Anda usung di periode ketiga memimpin BWF?

PE: Komitmen saya sama. Mendorong lebih banyak anak muda tertarik mengambil raket sebagai olahraga favorit mereka. Penting juga terus meningkatkan produk bulu tangkis untuk menarik lebih banyak penggemar muda. Kabar baiknya, data yang diambil antara Olimpiade Rio 2016 dan Olimpiade Tokyo 2020 menunjukkan peningkatan partisipasi dan konsumsi publik kepada bulu tangkis tertinggi sepanjang masa. Meski ada Covid-19 yang mengganggu aktivitas kompetisi.

JP:Apa menurut Anda bulu tangkis sudah cukup populer di dunia?

PE:Kami telah bekerja sangat keras menjadikan bulu tangkis sebagai olah raga global. Baik melalui program akar rumput seperti Shuttle Time, maupun penawaran siaran ekstensif. Kini siaran kami telah menembus 78 negara. Survei terakhir menunjukkan kami memiliki 735 juta penggemar di seluruh dunia.

Memang selalu ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk membawa bulu tangkis ke lebih banyak wilayah. Tetapi kami yakin, struktur kompetisi dan program pengembangan yang kami miliki adalah fondasi kuat membuat bulu tangkis semakin populer dalam lima, sepuluh, sampai 20 tahun ke depan. (irr/bas/jpg/ndy)