Surya Darma merupakan satu dari sekian seniman di Balikpapan yang masih bertahan di tengah pandemi. Sejak 1985, lebih 600 karya lukis telah dia hasilkan.

 

ULIL MUA'WANNAH, Balikpapan

 

LANTAI dua di rumah permanen di Jalan Fisika PGRI, Blok L, RT 49, Balikpapan Selatan, itulah tempat pergumulannya. Bau cat minyak sedikit menguar. Kuas-kuas yang menjadi senjatanya diletakkan di dalam ember bekas cat. Dindingnya dipenuhi pajangan buah tangannya.

Lukisan mampu mewakili perasan sang seniman. Merangkum kisah dan sejarah di dalamnya. Lukisan mampu menjadi jembatan. Penyampai pesan dan ungkapan. Seperti yang tergambar dari karya terbarunya, berjudul Setitik Harapan.

Dibuat sejak dua bulan terakhir, lukisan tersebut mewakili kondisi pandemi. Di atas kanvas berukuran 90x90 sentimeter, Surya menggambar seorang anak yang tengah mengenakan masker sembari memeluk sembako. Di bagian latar pecahan uang kertas Rp 100 ribu yang hanya digambar separuhnya.

Dipersiapkan untuk dikirim. Lukisan itu direncanakan tampil dalam sebuah pameran di Jogjakarta bulan ini. Surya menganut gaya realis. Condong lebih menampilkan hal-hal berkaitan warisan budaya maupun sosial. Menunjukkan interaksi dan sisi human interest.

“Lukisan ini menggambarkan bagaimana kebahagiaan sederhana seorang anak yang mendapatkan bantuan sembako, karena penghasilan orangtua mereka yang bahkan untuk mendapatkan separuh dari Rp 100 ribu saja tidak pasti karena pandemi,” ucap pria yang identik dengan rambut gondrongnya tersebut.

Semua seniman di dunia, kata Surya, terpuruk akibat Covid-19. Dia yang juga seorang pengajar pun tidak bisa melakukan tatap muka. Dia mengibaratkan seperti sebuah kotak kecil yang tertutup. Tidak ada pintu. Membuat seniman merasakan sesak napas. Bahkan karam karena gempuran pagebluk.

Secercah harapan kembali bersinar, kala pemerintah melonggarkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Napas yang semula sesak, kini kembali lega. Bagi seniman, meredanya Covid-19 jadi waktu yang baik untuk berkarya.

Empat bulan lalu, pameran dan workshop kecil telah diperbolehkan digelar di Samarinda. Tiga pekan kemarin, Polda Kaltim sudah pula menggelar festival mural di Balikpapan. Lewat pameran-pameran itulah mereka bisa menjual karya.

Suami Widya Christanti tersebut menuturkan, selama pandemi memang ada pameran melalui dunia maya. Undangan dari luar negeri maupun luar daerah secara virtual. Sayang dari sisi ekonomi tidak bisa menghasilkan. Waktu terbatas tanpa interaksi. Berbeda ketika dilakukan secara konvensional. Setidaknya 2–3 karya lukis bisa terjual.

Walau kondisi mulai sedikit normal, pesanan lukisan masih sedikit sulit. Selama dua tahun virus asal Wuhan, Tiongkok itu merebak, baru dua pesanan dia terima. Itu pun pemesan masih terbilang kawan. Pemesan dikenakan tarif mulai Rp 1,5 juta per kepala hingga seterusnya. Atau disesuaikan keperluan.

Menurut dia, seniman yang murni hidup dari seni hanya beberapa orang. Banyak hanya selingan karena punya pekerjaan. Perekonomian sempat surut membuat seniman yang bekerja turut menjadi korban pemutusan hubungan kerja. Sampai perselisihan keluarga.

“Mengubah profesi memulai dari nol lagi. Sulit. Mau tak mau hanya bertahan dengan tabungan. Tapi, lama-kelamaan namanya tabungan kan menipis,” katanya.

Semenjak diperbolehkan kembali mengajar tatap muka, Surya merasa legawa. Dia sempat mengajar selama 16 kali pertemuan di SMP 17 Balikpapan, berkat program Gerakan Seniman Masuk Sekolah oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Ekstrakurikuler itu bisa diikuti anak didiknya secara private terbatas di rumahnya.

“Saya pernah mengajar di SMP 17 Balikpapan. Ada 15 anak tinggal di Kilometer 45 yang mungkin dianggap sebagai daerah pelosok yang jauh dari kota, tapi hasil karya mereka luar biasa. Potensi anak Balikpapan sebenarnya hebat-hebat. Sampai taraf nasional dan internasional. Hanya yang kurang event dan dukungan pemerintah,” ungkap ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Balikpapan itu.

Dia sempat mendengar, Dewan Kesenian Balikpapan hendak ingin mengelola Gedung Kesenian namun terbentur peraturan daerah (perda). Tempat tersebut sampai sekarang jarang sekali dipergunakan para seniman. Dia berharap, pemerintah punya anggaran khusus bagi pertunjukan kesenian agar bisa rutin digelar.

Agustus 2022, kata Surya, akan ada pameran di Samarinda. Dengan catatan kondisi Covid-19 membaik. Informasi yang dia dengar, Pemprov Kaltim akan menyiapkan anggaran hingga Rp 600 juta. Kegiatan tersebut dibumbui dengan beragam acara lainnya.

Di samping menggeluti lukis, Surya membuat alat musik khas Dayak. Deretan sape dapat pula ditemukan di studio lukis miliknya. Handmade. Setiap sape memiliki motif berbeda. Dia membanderol mulai Rp 5 juta. “Pembelinya dari luar daerah sampai Malaysia juga ada. Kebanyakan merupakan kolektor,” bebernya sembari merapikan sape-sape yang telah diproduksinya.

Selasa (23/11) lalu, Surya diundang ke Education Award 2021 di Hotel Bumi Senyiur Samarinda. Di acara itu, dia menerima penghargaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim. Prestasi itu merupakan jerih payah dan keaktifan dirinya dalam dunia pendidikan. (rom/k8)