Kematian adalah sebuah kepastian. Tidak melihat kondisi, waktu, dan akibat bagi yang ditinggalkan. Seperti yang dialami dua balita, Fahri (4 tahun) dan Noval (1,5 tahun), yang ditinggal ibu mereka selama-lamanya.

 

KAKAK beradik yang masih balita harus kehilangan ibunya secara tiba-tiba. Fahri dan adiknya, dan sang ibu Riskia Rahmulia Sari (alm) tinggal di bengkel las milik Legimin, Jalan MT Haryono Gang Pundi RT 74, Kelurahan Batu Ampar, Balikpapan Utara. Ibu anak ini menempatinya secara cuma-cuma.

Tidak ada yang menduga, dalam usia masih balita mereka harus kehilangan sang ibu. Kematian yang dialami Riskia sangat mendadak.

Menurut keterangan pemilik bengkel las, Legimin, Riskia ditemukan tak bernyawa sekitar pukul 06.30 Wita.

“Senin (29/11) pagi, karyawan saya menemukan Riskia tergeletak dan anak-anaknya menangis-nangis. Saat beberapa karyawan saya melaksanakan salat Subuh, masih tidak tahu bagaimana kondisi Riskia. Sekitar pukul 06.30 Wita, anak-anak mereka menangis sangat keras. Karyawan memanggil saya. Seketika, saya bersama dua orang melihat ke dalam kamar, kondisinya sudah tergeletak tidak bernyawa,” terangnya.

Ia menjelaskan, di bengkel, Riskia dan anaknya menempati kamar di lantai dua. “Untuk lantai dua memang dipakai untuk tempat tinggal beberapa karyawan saya. Mereka sudah tinggal selama tiga bulan,” katanya.

Legimin memberikan mereka tempat tinggal sementara karena berniat ingin membantu. “Tetangga saya yang meminta bantuan dan memperkenalkan dengan mereka. Ya, untuk sementara saya berikan saja kamar untuk mereka tinggali. Kondisi kamar ala kadarnya. Mereka ingin mencari tempat tinggal sementara, karena sudah tidak mampu membayar indekos sebelumnya. Awalnya, Riskia dan kedua anaknya datang bersama ayah mereka yang bernama Ali,” ucapnya.

Mereka tinggal di kamar berukuran 3x4 meter. Rumah kayu. Atapnya tidak berplafon. Langsung atap seng, itu pun ada yang bolong.

Ia tidak terlalu mengenal latar belakang pasutri dengan dua anak ini. Saat tinggal di lantai dua bengkel, mereka juga jarang berbicara atau keluar. Hanya saja, sang suami setahunya memang terkena PHK, kemudian ikut ojek online.

Sekitar tiga minggu lalu, dari informasi yang diterima, sang suami mendapat kerja di Sangatta, Kutai Timur.

“Sempat pamit dengan saya untuk bekerja ke luar kota. Saya tahu saja baru-baru ini. Mereka memang cenderung tertutup,” bebernya.

Saat sang ibu meninggal, ia segera memanggil RT setempat dan warga lainnya. “Saya tidak tahu bagaimana. Jadi, saya meminta tolong warga sekitar untuk membantu. Sang suami tidak bisa dihubungi. Jadi, saya tidak tahu lagi,” tuturnya.

Dari informasi yang didapat, ponsel suaminya rusak. Jadi, selama ini berhubungan melalui ponsel temannya.

“Saya lihat sejak suaminya pergi merantau untuk kerja, untuk makan ibu anak ini sering dibelikan melalui ojek online. Pas kebetulan ada ojol yang mengantar makanan, langsung kami tanyai siapa yang memesan. Ternyata sang suami memesan melalui temannya. Melalui temannya itu, akhirnya kami bisa memberitahukan,” bebernya.

Ia membeberkan, sejak tinggal di tempatnya, memang sang ibu sudah kelihatan sakit. “Penyebab meninggalnya Riskia ini infonya karena sakit lambung. Sejak awal tinggal di bengkel saya, memang ia terlihat tak sehat,” katanya.

Sebagai informasi, berdasarkan SIM C yang didapat, Rizkia merupakan warga perantau dari Kalimantan Selatan, Kabupaten Balangan.

Sementara itu, Ketua RT 74 Balikpapan Utara Ikhsan mengatakan, tidak lama setelah jenazah sang ibu diurus, sore harinya sang suami Ali datang. Kemudian, keluarganya dari Kalsel juga datang.

Tidak perlu waktu lama, atas bantuan Ketua DPRD Balikpapan Abdulloh, jenazah bisa langsung dibawa ke Balangan. Tepat pada Selasa (30/11) pukul 01.00 dini hari jenazah berangkat dengan mobil jenazah. Ikhsan menuturkan, Riskia bersama suami tinggal di wilayahnya sejak empat tahun silam. “Memang saat datang, sang istri sudah mengandung. Kedua anaknya dilahirkan di Balikpapan,” bebernya.

Ia menuturkan, suami istri tersebut tidak terlalu terbuka atau bersosialisasi dengan warga. Tapi, bagaimanapun kepergian Riskia yang mendadak itu, ditambah kepindahan suami dan anaknya membuat warga setempat terasa kehilangan sesuatu. (aji/ms/k15)