LONDON – Demi filosofi menyerang Manchester United era Sir Alex Ferguson, Ole Gunnar Solskjaer seolah dipaksa memainkan komposisi pemain ”selera fans”. Artinya, semua bintang United harus selalu bermain. Padahal, taktik tersebut belum tentu tepat dengan lawan yang dihadapi.

Hal itulah yang tidak dianut oleh pelatih karteker pengganti Solskjaer, Michael Carrick. Saat menghadapi pemuncak klasemen Premier League Chelsea di Stamford Bridge (29/11), Ronaldo jadi cadangan. Carrick lebih memilih mengandalkan kecepatan Marcus Rashford dan Jadon Sancho di lini serang United dalam skema 4-3-1-2.

Meski berawal dari blunder gelandang Chelsea Jorginho, Sancho berhasil membuat United unggul 1-0 pada menit ke-50. Sayang, misi Carrick menekan The Blues saat unggul skor lumayan terlambat karena Ronaldo baru masuk 14 menit berselang. Taktik itu pun tidak berhasil karena pressing pemain United mengendur setelah masuknya Ronaldo. Alhasil, Jorginho membayar kesalahannya dengan gol penalti (69’).

Kepada Sky Sports, Carrick mengakui keputusan mencadangkan Ronaldo berasal darinya. Bukan asumsi sebagian fans maupun pandit Gary Neville yang menyebut ada campur tangan pelatih interim United yang baru ditunjuk, Ralf Rangnick. Sebagai pelatih dengan filosofi bahwa setiap pemain outfield diharuskan senantiasa melakukan pressing, Rangnick disebut akan sering menepikan Ronaldo yang sudah berusia gaek (36 tahun) tersebut.

”Cristiano (Ronaldo) adalah nama besar, tetapi kami memiliki sebuah game plan dengan ide seperti itu (tidak memainkan Ronaldo, Red),” tutur Carrick. ”Saya juga berbicara dengan Cristiano sebelumnya dan dia bisa menerima keputusan untuknya,” imbuh pelatih yang kini belum terkalahkan dalam dua laga bersama United tersebut. (io/c17/dns)