TURIN – Pavel Nedved pernah menjadi bagian skuad Juventus yang terlibat skandal pengaturan skor (Calciopoli) pada 2006. Kasus yang membuat Nedved merasakan atmosfer Serie B. Setelah 15 tahun berselang, Nedved kembali terseret kasus manipulasi transfer pemain di Juve.

Sebagai wakil presiden La Vecchia Signora, Nedved adalah orang yang diklaim paling bertanggung jawab atas kasus tersebut. Sebab, dia adalah orang kepercayaan Presiden Juve Andrea Agnelli.

Manipulasi yang dituduhkan disebut terjadi dalam dua pertukaran pemain Juve pada musim 2019–2020 dan 2020 – 2021. Yaitu saat Juve melego fullback Joao Cancelo ke Manchester City senilai EUR 65 juta (Rp 1,056 triliun), sedangkan City mengirimkan bek kanan Danilo ke La Vecchia Signora.

Di musim berikutnya, Juve melepas gelandang Miralem Pjanic ke FC Barcelona seharga EUR 60 juta (Rp 975,6 miliar) dan sebaliknya, merogoh kocek EUR 72 juta (Rp 1,17 triliun) untuk mendapatkan gelandang Arthur Mello.

Dua transfer itu hanya bagian dari 21 transfer pertukaran pemain dan 42 transfer overall mencurigakan yang dilakukan oleh klub peraih 36 scudetto Serie A tersebut.

Football Italia menulis, ada pergerakan uang sedikitnya EUR 90 juta (Rp 1,5 triliun) dari transfer-transfer mencurigakan itu. Selain Nedved, semua petinggi Juve diperiksa. Mulai Agnelli, Chief Corporate & Financial Officer Stefano Cerrato dan Strefano Bartola, hingga mantan direktur sepak bola Juve Fabio Paratici.

Kantor Kejaksaan Turin sejatinya telah membuka kasus tersebut akhir bukan lalu. Yaitu setelah ada laporan oleh COVISOC (komisi pengawasan klub sepak bola Italia) dan berlanjut dengan CONSOB (regulator pasar Italia) yang meninjau pendapatan Juve dari aktiivitas pertukaran pemain. Penyelidikan kasus bergulir lagi dengan penggeledahan kantor Juve di Continassa (markas latihan).

”Kami siap bekerja sama dengan semua pihak. Kami percaya bahwa itu bakal mengklarifikasi setiap aspek kepentingan karena kami menilai kami bertindak sesuai dengan undang-undang dan aturan yang mengatur penyusunan laporan keuangan sesuai prinsip akuntansi dan sejalan dengan praktek industri sepak bola,” sebut Juve dalam penyataan resminya.

Andaikan terbukti melakukan pelanggaran tersebut, Juve bisa menjalani hukuman berupa pengurangan. Seperti yang pernah dialami Chievo Verona pada 2018. Poin Chievo ketika itu dikurang tiga poin setelah melanggar aturan akuntansi yang berulang. La Gazzetta dello Sport dan Sportmediaset melabeli kans Juve disanksi dengan: berpotensi.

Kasus manipulasi transfer itu tak pelak membuat situasi Juve semakin pelik saat ini. Sebab, secara performa di lapangan, skuad Massimiliano Allegri juga sedang terpuruk. Bahkan, setelah dipermalukan 0-1 oleh Atalanta BC di Allianz Stadium kemarin (28/11), asa scudetto Giorgio Chiellini dkk semakin menjauh seiring tertinggal 11 poin (21-32) dengan capolista SSC Napoli. Itu pun dengan Napoli memainkan satu laga lebih sedikit (13-14).

Allegri pun sampai berani lempar handuk. ”Kami tidak akan meraihnya (scudetto Serie A musim ini, Red). Empat besar pun butuh kami gapai dengan susah payah,” tutur Allegri kepada Tuttosport. (ren/dns)