JAKARTA – Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberikan peringatan tentang menyebarnya variant of concern (VOC) dengan kode B.1.1.529. Varian yang diberi nama Omicron tersebut ditemukan di Afrika Selatan berdasar hasil penelusuran genomik.

WHO menuangkan peringatan tersebut dalam WHO's Technical Advisory Group on SARS-CoV-2 Virus Evolution (TAG-VE). Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan bahwa berdasar data-data awal yang tersedia, varian itu memiliki kecepatan transmisi 500 kali lipat dibandingkan varian orisinal Wuhan. ’’Sebagai perbandingan, varian Delta punya kecepatan 100 kali dari varian asli Wuhan,” kata Dicky (27/11).

Dari berbagai varian yang dites di lab-lab genomik di dunia, Omicron diketahui merupakan VOC pertama yang langsung ditetapkan dalam kelompok VOC. Berbeda dengan varian lain –termasuk Delta– yang sebelumnya selalu melalui tahapan variant of interest atau variant under investigation (VUI). ”Karena kecepatan penularan varian Omicron sangat ekstrem. Walaupun ini baru data awal, sudah cukup untuk meningkatkan kewaspadaan kita,” kata Dicky.

Dia menyebut varian itu mampu menaikkan tingkat kepositifan (positivity rate) dari 1 persen menjadi 30 persen hanya dalam waktu tiga minggu.

Kurang dari dua minggu sejak ditemukan, Omicron sudah bisa mendominasi 70 persen kasus positif di Afrika Selatan. Saat ini 90 persen kasus PCR yang positif di ibu kota Afsel adalah infeksi Omicron. Yang mengkhawatirkan lagi adalah kemampuan varian itu menular lewat udara. Laporan dari Hongkong, salah seorang turis yang baru melancong dari Afsel terdeteksi membawa Omicron. Saat menjalani karantina di sebuah hotel, pasien tersebut menularkan kepada tamu hotel di seberang kamarnya.

Penularan diduga terjadi saat pasien karantina itu membuka pintu kamar untuk mengambil makanan. Dengan jeda waktu yang tidak terlalu lama, seorang tamu di kamar yang berhadapan juga membuka pintu untuk mengambil makanan. ”Ini membuktikan penularan bisa melalui udara di lorong hotel. Ini artinya peringatan, kalau kedatangan pelancong dari luar negeri, walaupun PCR-nya negatif, harus karantina setidaknya tujuh hari. Kemudian, sirkulasi udara diperhatikan,” katanya.

Masa karantina tujuh hari harus menjadi standar. Pada hari kelima dan keenam, dilakukan tes PCR dengan memperhatikan gejala. Untuk pencegahan, memang bisa diambil opsi menutup pintu penerbangan, tapi mitigasi yang paling penting adalah penguatan surveilans di pintu masuk perbatasan. ’’Waspada harus. Takut jangan, apalagi panik,” jelas Dicky.

Data sejauh ini dari Afrika Selatan, vaksinasi masih efektif dalam mencegah keparahan maupun kematian. Sebab, kebanyakan infeksi terjadi pada kelompok yang belum divaksin. Karena itu, kata Dicky, Indonesia harus memanfaatkan momentum yang ada untuk mengejar target vaksinasi. ’’Kita kejar harus mengarah ke 90 persen total penduduk sudah mendapatkan dosis kedua. Booster juga segera diberikan,” jelasnya. Penting juga perlindungan untuk kelompok berisiko. Yakni, lansia, komorbid, anak-anak, dan wanita hamil. (tau/lum/syn/c7/oni)