Awalnya opsi ini ditawarkan bagi mereka yang ketika hendak tes usap PCR, mengeluhkan kondisi kesehatan yang membuat proses usap jadi lebih sulit dan berisiko.

  

DI MASApandemiini,tes usap atau swab menjadi akrab untuk kebutuhan pemeriksaan Covid-19. Bepergian saat ini harus negatif terpapar virus corona. Nah, untuk melakukan tes swab, entah untuk kebutuhan tes antigen maupun pemeriksaan secara polymerase chain reaction(PCR), perlu sampel dari hidung atau tenggorokan. Yang biasanya diambil dengan memasukkan alat lalu dimasukkan ke hidung atau mulut. Namun, bagi sebagian orang, metode ini dirasa kurang nyaman. Apalagi, bagi mereka yang memiliki gangguan kesehatan di area hidung seperti tulang hidung yang bengkok, rentan mimisan, dan sebagainya. Karena itu, mengambil sampel dengan saliva, jadi opsi pengambilan sampel lebih nyaman.

Dokter patologi klinik yang bertugas di Laboratorium Kesehatan Provinsi (Labkesprov) Kaltim Yetty Fauza menjelaskan, sebelumnya pengambilan sampel untuk pemeriksaan dengan PCR itu hanya dengan tes usap di nasofaring-orofaring. Karena itu, pengambilan sampel melalui hidung untuk mencapai nasofaring dan melalui mulut untuk mencapai orofaring. Lalu, ada tambahan opsi pengambilan sampel lain, dengan saliva. Yang disebut lebih nyaman karena pasien hanya perlu berkumur dalam atau gargling. Sebenarnya, di Labkesprov Kaltim sudah sejak beberapa bulan lalu disediakan opsi ini. Namun, awalnya opsi ini ditawarkan bagi mereka yang ketika hendak tes usap PCR, mengeluhkan kondisi kesehatan yang membuat proses usap jadi lebih sulit dan berisiko.

Akhirnya dari mulut ke mulut, opsi ini pun diketahui masyarakat. Hingga, banyak masyarakat yang berminat dengan metode ini. “Waktu RI-1 (Presiden Joko Widodo) datang (pada Agustus lalu ke Samarinda), sudah diterapkan tes PCR dengan sampel Bio Saliva pada tim pengawal RI-1 yang bertugas dan tamu-tamu yang hadir,” jelas Yetty. Lebih lanjut Yetti menjelaskan, metode ini hanya untuk pemeriksaan dengan PCR. Dia memaparkan, dari penelitian ilmuwan di Indonesia, salah satu sampel yang bisa dipakai adalah saliva alias air ludah. Dari berbagai penelitian dan jurnal, di saliva itu ada reseptor. Sehingga, virus bisa dideteksi di saliva. “Jadi, pada dasarnya hanya perbedaan pengambilan sampel,” sambung dia.

Sehingga, hasilnya pun tetap bisa dipakai sebagai syarat penerbangan. Sama seperti tes usap PCR. Sebelum menerapkan metode ini di masyarakat Kaltim, pihaknya juga melakukan tes dahulu di Labkesprov Kaltim. Dari tes yang mereka lakukan, ternyata hasil antara pengambilan sampel tes usap di nasofaring atau orofaring, sama dengan hasil ketika dilakukan dengan sampel saliva. Saat ini, di Indonesia memakai produk Bio Saliva yang merupakan produk dari Biofarma. Dalam satu kemasan, terdapat dua larutan. Satunya adalah larutan kumur dan satu lagi larutan pencampur. Setelah melewati proses ekstraksi, sampel tersebut akan dibaca dengan mesin PCR. Harga pun berbeda dengan tes usap karena menggunakan bahan reagen yang berbeda.

Alat tes Bio Saliva ini pun telah mengantongi izin resmi dari Kementerian Kesehatan. Dalam keterangannya di laman Kementerian Kesehatan, Bio Saliva diklaim memiliki sensitivitas hingga 95 persen, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif selain menggunakan PCR Kit. Bio Saliva juga telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan pada 1 April 2021 dengan Nomor KEMENKES RI AKD 10302120673. Pengguna Bio Saliva dianjurkan tidak makan dan minum, merokok, berkumur dengan cairan antiseptik selama 1 jam sebelum berkumur. BioSaliva digunakan dengan cara berkumur di bagian tenggorokan dalam.

Sebelum berkumur, pengguna Bio Saliva dianjurkan menarik napas secara kuat, lalu batuk sedikit untuk mengeluarkan dahak tanpa dibuang. Selanjutnya masukkan cairan kumur yang tersedia dalam kemasan Bio Saliva ke dalam mulut dan mulai berkumur di bagian dalam tenggorokan. Kemudian keluarkan cairan kumur dari dalam mulut ke dalam wadah dan campurkan dengan larutan pencampur yang juga tersedia dalam kemasan. Kemudian kocok dan sampel siap dites di laboratorium. Namun, pada dasarnya semua kembali ke masing-masing pilihan masyarakat. Labkesprov Kaltim tetap menyediakan tes usap dan maupun tes dengan sampel saliva. Sebab, bisa jadi ada orang yang merasa lebih menyukai tes usap. (nyc/riz/k16)