Peliput: M Ridhuan Nofiyatul Chalimah

 

Hampir dua tahun pelajar di Kaltim mengikuti pendidikan di sekolah secara daring. Sementara guru dituntut mampu mengaplikasikan teknologi. Selain itu, berinovasi, agar transfer ilmu ke siswa lewat jarak jauh bisa tersampaikan dengan baik. Pelajar pun bisa memahami.

 

SETELAH ditinggal tak berpenghuni selama 20 bulan, ruang kelas di SMP 14 Balikpapan kembali “hidup” pada 11 Oktober lalu. Ketika Pemkot Balikpapan memutuskan jenjang SD dan SMP boleh menggelar pembelajaran tatap muka (PTM). Siswa duduk di bangku mereka. Sementara guru menerangkan materi pelajaran di depan papan tulis. “Rasanya senang begitu pertama kali bisa kembali mengajar secara langsung,” kata Sugiharni, guru SMP 14 Balikpapan, Jumat (26/11).

Meski dilaksanakan secara terbatas, Harni --biasa disapa, mengaku antusias. Kerinduan mengajar langsung di dalam kelas di hadapan langsung siswanya terobati. Di sisi lain, dia bisa mengenal langsung wajah dan karakter siswa. Termasuk kemampuan siswa yang selama ini hanya diketahui lewat monitor.

“Ternyata yang selama belajar daring paling banyak bicara, setelah ketemu langsung rupanya pendiam. Ada yang kok pintar, ternyata selama ini tugasnya dikerjakan orangtua,” tutur Harni.

Pengalaman selama mengajar daring memang penuh tantangan. Pertama karena masih minimnya pengetahuan teknologi. Hingga dirinya harus belajar secara autodidak. Meski pada 2020 lalu dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan menggelar pelatihan Microsoft 365 dan Google Suit untuk memudahkan guru memahami aplikasi dan platform pembelajaran.

Di sisi lain guru seperti dirinya, akhirnya harus bisa belajar bagaimana mampu membawa suasana mengajar bisa dinikmati siswa. Dan memberikan tugas yang bisa membuat siswa bisa mengeksplorasi diri dan kemandirian mereka menyerap ilmu yang diberikan.

“Selama PJJ (pembelajaran jarak jauh), karena waktu yang terbatas, kami guru pada akhirnya lebih banyak memberikan tugas ke siswa. Untuk saya sendiri, tugas yang diberikan ini harus mengandung unsur yang bisa meningkatkan, tidak hanya kemampuan siswa, namun keterlibatan orangtua,” bebernya.

Guru seperti dirinya sadar, tidak semua siswa mampu secara ekonomi. Artinya, guru tidak ingin terlalu panjang lebar menerangkan materi melalui layar Google Classroom atau Zoom. Yang bisa menghabiskan banyak kuota internet. Jadi, materi dan tugas akan dikirimkan melalui pesan WhatsApp. Di sini guru akan membentuk grup. Dan untuk hasil tugas biasanya Harni akan meminta siswanya mengunggah di media sosial mereka.

“Saya biasanya minta siswa membuat video atau animasi sederhana terkait materi yang diajarkan. Nanti diunggah ke IG (Instagram) mereka dan di-tag ke saya. Di situ penilaiannya,” ucapnya.

Harni tak menampik, selama PJJ banyak menemui kendala. Persoalan yang muncul biasanya akan disampaikan melalui paguyuban guru dan orangtua siswa. Kebanyakan masalah yang muncul adalah gangguan sinyal selama PJJ. “Ini yang kerap disampaikan ke guru begitu ditanya kenapa ada siswa yang tidak mengumpulkan tugas tepat waktu,” ujarnya.

Dirinya bersyukur PTM sudah berlangsung. Meski secara terbatas, setidaknya bisa menjalin kedekatan emosional siswanya. Beban memang bertambah, karena setelah tiga jam mengajar di kelas (luring) pada pagi hari, dirinya kembali harus mengajar sisa siswa secara daring hingga pukul 15.00 Wita. Baginya memang merepotkan. “Tetapi namanya guru kerjanya harus ikhlas,” ungkapnya.

Kepala SMP 14 Balikpapan Eny Fitriyati menambahkan, sejak awal PJJ, salah satu kendalanya adalah belum meratanya ponsel pintar di kalangan siswa. Masalah itu pun sudah dipecahkan dengan melakukan pengumpulan perangkat, baik dari Disdikbud maupun guru di sekolah. Kemudian diberikan kepada siswa yang kurang mampu secara ekonomi. Termasuk di dalamnya kuota internet. “Awalnya itu solusi. Tetapi belakangan beberapa ponsel rusak dan kuota yang diberikan tidak digunakan sebagai mestinya,” ucap Eny.

Selama PJJ pihaknya banyak menemui kasus anak lebih banyak bermain gim daripada mengerjakan tugas yang diberikan guru. Bahkan ketika dikonfirmasi ke orangtua, ternyata anak berbohong telah selesai mengerjakan tugas mereka. Bahkan untuk memberikan semangat dan memastikan anak mengumpulkan tugas, tak jarang guru harus menghubungi langsung siswa atau orangtua. Bahkan langsung ke rumah siswa. “Sampai di rumah, ternyata siswa masih tidur,” tuturnya. 

Eny menyebut beban guru yang dialami selama PJJ sebenarnya bisa diringankan dengan kerja sama orangtua siswa. Sayangnya, tidak semua orangtua mampu memberikan waktunya untuk mendampingi dan mengawasi anak mereka belajar di rumah. Karena disibukkan oleh pekerjaan.

Selain itu, beberapa orangtua tidak memiliki kemampuan teknologi dan pengetahuan yang berkaitan dengan PJJ. Hingga menyerahkan penuh tanggung jawab ke guru dan percaya saja dengan anak mereka.

“Kami sering bertanya kepada orangtua, apa kendala selama PJJ ini. Tapi kebanyakan soal orangtua yang tidak mampu memberikan pengawasan ke anaknya. Hanya percaya anaknya belajar dan menyelesaikan tugas. Tidak sampai mengecek, benar tidak tugasnya selesai,” ucapnya.

Di sisi guru, pada awal PJJ sekolah mengandalkan kemampuan guru teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk membantu rekan guru mata pelajaran lain mengelola pembelajaran daring. Dari semua sebagai partisipan, kini guru sudah bertindak sebagai admin. Guru pun disebutnya berkembang dalam memberikan materi pelajaran.

“Guru dipaksa kreatif. Namun tetap dalam penyampaian di Zoom atau Google Classroom terbatas. Karena tadi, kami sadar kemampuan kuota internet siswa yang kurang mampu,” jelasnya.

Untuk kuota internet, guru selama ini mengandalkan dua sumber. Dari bantuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sebesar 12 Gigabyte per bulan. Namun, kuota itu hanya dibatasi penggunaannya di platform pembelajaran. Sementara guru yang biasanya bergantian masuk sekolah bisa mengakses WiFi milik sekolah. “Kesulitannya kalau mencari materi selain di platform pembelajaran. Jadi menggunakan internet sendiri,” ujarnya.

BERHARAP TATAP MUKA

Hampir dua tahun Rahma Alieffiyandi (15) merasakan sekolah secara daring. Siswi kelas 3 SMA 6 Samarinda mengaku, awal belajar daring agak kesusahan. Hal itu pun diakui tidak hanya dia yang merasakan, tetapi juga teman-teman sekolahnya. Jika sebelumnya, belajar hanya cukup datang ke sekolah menyiapkan buku dan pulpen, pada awal-awal pandemi Covid-19, dia harus belajar bagaimana mengoperasikan sejumlah aplikasi untuk belajar. Mulai dari Zoom, Google Meet, dan sebagainya.

“Sempat agak bingung pada awal itu. Tetapi setelah itu kami terbiasa. Kami juga komunikasi menggunakan grup WhatsApp,” cerita Rahma.

Dia mengakui, pada awal, dia senang dan bersemangat ketika diminta hanya belajar di rumah selama sebulan. Namun, ternyata kasus Covid-19 tidak reda dan dia tidak bisa bersekolah seperti biasanya, lebih dari setahun.

Mau tidak mau, dia beradaptasi. Rahma mengambil sisi positif dari belajar daring selama ini. Jika sebelumnya menggunakan handphone untuk bermain gim atau sosial media, tapi karena ada pembelajaran daring, dia mulai banyak browsing soal pelajaran. “Banyak artikel yang bagus. Misalnya dari cari artikel untuk pelajaran sejarah, saya lanjut baca-baca yang lain. Wah ternyata banyak yang bisa saya eksplorasi,” kata Rahma.

Meski begitu, memang ada momen dia tidak begitu mengerti tugas yang diberikan gurunya. Maka, terkadang dia mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Momen itu, dia pakai untuk menjaga pertemanannya. Sebab, mereka tak bisa bertemu tiap hari seperti sebelum Covid-19 datang.

“Kadang mengerjakan tugas bareng. Kadang juga memang ada tugas kelompoknya. Sudah beradaptasi kami. Enggak bingung seperti awal-awal dulu,” sambung dia.

Rahma berharap sekolah bisa tatap muka. Bertemu dengan guru dan berinteraksi dengan teman-temannya. Bersama dengan ratusan pelajar SMP dan SMA beberapa waktu lalu, dia pun sudah divaksin di Stadion Utama Palaran, Samarinda. “Enggak takut vaksin, soalnya keluarga semua sudah vaksin. Jadi, aman saja,” jelas dia.

BEBAN GURU BERTAMBAH

Tak bisa dimungkiri, selama dua tahun pembelajaran jarak jauh (PJJ) telah terjadi learning loss. Hilangnya kemampuan akademik pengetahuan atau keterampilan oleh peserta didik itu, efek dari terjadinya perubahan metode pembelajaran secara mendadak. Ditambah belum matangnya kebijakan hingga dunia pendidikan akibat perubahan yang tiba-tiba.

Pengamat pendidikan dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Prof Susilo menyebut, sejak awal PJJ, baik guru, siswa hingga orangtua murid tak memiliki kemampuan untuk menerapkan metode yang bertujuan meminimalisasi penularan Covid-19 itu. Dengan minimnya ilmu dan teknologi, mereka yang terlibat akhirnya memaksakan diri di tengah keterbatasan.

“Dari sisi pemerintah sejak awal hanya fokus pada mengganti metode belajar dari luring ke daring. Sementara di sisi guru, banyak yang belum memiliki pengetahuan dan kemampuan penerapan metode daring,” ujarnya.

Dari guru yang tidak paham dipaksa menggunakan teknologi. Yang sebelumnya tak memiliki ilmu dan kreativitas mengajar secara daring pada akhirnya mau tidak mau mencari cara. Agar pembelajaran daring bisa diterima pelajar seoptimal mungkin. Kata dia, secara alami, sejak diterapkannya PJJ, semua pihak akan melakukan perubahan.

“Masalah ini kemudian bertambah pada guru dengan PTM terbatas. Karena harus menyiapkan rencana pembelajaran daring dan luring,” ucapnya.

Tidak hanya itu, dari sisi orangtua pun, tidak semua mampu menjadi pendamping. Dan untuk pelajar, metode itu mengubah psikologis mereka terhadap dunia sekolah. Meski pada akhirnya pemerintah mengeluarkan kurikulum darurat, namun hanya bersifat meringankan beban guru dan siswa. Tetapi tidak mampu mencegah loss learning.

Tetapi bagaimana pun, Susilo menyebut dengan penerapan PTM juga belum mampu mengejar ketertinggalan akibat learning loss. Apalagi dalam praktiknya, kini PTM hanya dilakukan secara terbatas. Artinya, kalaupun dilakukan PTM, dirinya meyakini dunia pendidikan tidak akan mampu berjalan secara normal jika dibandingkan pada masa sebelum pandemi.

“Karena itu yang perlu diubah adalah logikanya. Tidak lagi berlogika pada masa sebelum pandemi. Tetapi berlogika pada era baru ini,” jelasnya.

Kreativitas kebijakan juga akan lahir dari pemerintah karena melihat celah-celah yang ada selama PJJ. Platform pembelajaran bermunculan, sehingga kita tidak boleh menafikan dunia baru dalam pendidikan saat ini. Bagi Susilo, PTM yang saat ini diterapkan tidak bertujuan mencapai nilai akademik. Tetapi lebih kepada peran sebagai ruang interaksi. Perlahan mengembalikan atmosfer yang hilang selama PJJ.

“PTM saat ini hanya sebagai ‘obat’ untuk menyembuhkan psikologis guru dan siswa. Dan bagi guru ini menjadi cara untuk mengecek benar tidak kemampuan siswa itu sesuai dengan selama daring. Apakah tugas dan nilai yang diperoleh siswa itu murni dari kemampuan siswa atau bukan,” bebernya. (rom/k16)